HEDUNG
nuansa tari perang di nuha serbite,
adonara tanah tadon
persepsi elegis akan pesona adonara
yang mulai memudar binar kebyarnya
david kopong lawe
(d’Klawes)
rasing gong redang bawa namang tukan
hangè rèa sapè mura wahane nai tudak lèin lau
golo gèrè sapè rame urine nai taga werang raè
hèdung hamang sapè taäng dopi kepo wuhu leba
soka sèlèng sapè taäng lèhung labot arane balè
SEBAGAIMANA kita ketahui, Adonara tempo dulu bagaikan seorang perawan belia yang ayu dan anggun. Begitu banyak pesona yang terkandung dalam rahimnya yang mestinya dikibarkan sebagai panji kebanggaan, terlebih pada era tahun 200-an ini. Seandainya segenap pesona itu masih tetap utuh lestari, maka tentu saja ia mulus tercatat dalam daftar nominasi agrowisata sebagaimana marak dicanangkan Pemerintah Daerah Flores Timur. Kini Adonara berubah rupa. Ia bagaikan seorang perawan tua nan lesu lusuh menghitung hari-harinya yang suram. Waktu, keacuhan, dan kepongahan penghuninya telah mendatangkan berbagai erosi fatal yang menguras kikis kecantikannya. Akhirnya Adonara terbaring nelangsa dibalut kerinduan maha dalam pada serentang panjang penantiannya akan jamahan pencinta dan pengunjungnya serta mungkin pengagumnya, para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Sungguh ironis. Pesona Adonara telah banyak luntur sebelum disapa decakan “wah” para pengagumnya yang terpesona.
Konon, burung nuri merah yang pernah dipersembahkan langsung kepada Bung Karno (1934) oleh Raja Larantuka di Lite – Horowura, wilayah Kakang Horowura, kini telah punah. Padahal seterimanya burung nuri tersebut Bung Karno melepasnya kembali dengan maksud agar orang Adonara menjaga kelestariannya. Biar jangan punah, biar tetap menghiasi bumi Adonara. Derai ceracau dan cicit burung nuri serta bunga padang lainnya telah raib dari bumi Adonara. Maka lenganglah pagi cerah di bumi Adonara. Dan kemanakah kakatua yang dulu menghiruk pikukkan suasana pagi dan petang menyalami Adonara? Walaupun kakatua senang menjahili jagung di kebun bapak tani, toh ia adalah satwa unik yang tentu punya pesona. Populasi ini sudah punah.
Akhirnya anak-anak Adonara yang terlahir sebagai generasi pewaris Adonara, pada suatu hari kelak akan merasa asing terhadap nuri dan kakatua. Seolah-olah kedua satwa ini adalah burung ilusif negeri seberang, atau unggas keramat dari negeri dongeng antah berantah. Nah, ini soal satwa yang raib dan punah, yang berarti meredupkan sisi pesona dan keagungan Adonara.
Ada sementara panorama yang mangkal di bumi Adonara. Pantai Semara, Pantai Nama’, Pantai Kliha, Pantai Lagaloe – Deri, serta lain-lainnya nelangsa dalam penantian akan jamahan pengusaha agrowisata yang berkenan memolesnya menjadi lokasi wisata bahari rupawan. Werabotok yang sesewaktu menyemburkan pasir seiring dengan debur ombak di liang tebing pantainya, tergolek bisu merindu kehadiran para pengagumnya sekalipun sebatas pengagum lokal. Kota Kaya, empang alami semirip danau di desa Adonara yang setia menjanjikan pesona alam dan lezatnya bandeng bakar/panggang. Konon, Kota Kaya sedang dibenah, yang entah kapan selesai dan layak untuk menyapa pengunjung. Maka Kota Kaya akan tetap menjadi janji tinggal janji. Benteng Adonara di desa Adonara, peninggalan Portugis, kini hanya berfungsi menjadi tempat bermain bocah-bocah yang kurang memahami fungsi dan makna benteng ini. Meriam-meriam yang sempat tergolek, hanya menjadi tunggangan bocah-bocah iseng. Semuanya tergolek tak bermakna, kehilangan pesona historik.
***
Akan kemanakah tari-tarian Adonara, kalau ternyata tak lagi digemar gandrungi oleh anak tanah sendiri? Tari beku dari Terong, tarian Tenarere dari Redontena, hanya tarian gemulai ibu-ibu, bahkan nenek-nenek keriput peot? Kemanakah puteri-puteri remaja ketika tarian itu dipergelarkan? Mereka menonton tidak untuk tariannya, melainkan penarinya. Sehingga ketika nenek-nenek penari tampil agak janggal, puteri-puteri remaja yang menonton, tertawa terpingkal-pingkal. Lalai menikmatinya apalagi menirunya. Maka dapat dipastikan pesona tari-tarian itu, di ambang sirna dan terlupakan.
Hèdung dan sili, tarian heroik mencitrakan perang masa lampau, kini dibawakan asal jadi tanpa perwujudan gerak ekspresif-heroik, sebagaimana citra murni tarian ini, oleh anak-anak muda kita di zaman sekarang. Maka kelak hèdung dan sili hanya menjadi tarian tanpa nilai rasa sepeserpun. Sole’,namang, sèlèng seolah menjadi tarian asing di beberapa belahan tanah Adonara. Bukan lagi dipergelarkan sebagai tarian kebanggaan. Nilai dan posisinya telah tergeser oleh hentakan triping, disco, dan goyang dangdut. Akar-akar tarian rakyat inipun menjadi rapuh, mengisyaratkan lampu merah keambrukan.
Bumi Adonara nampaknya alergi akan “kelestarian”. Inilah kesimpulan sementara bila melihat kenyataan yang ada. Maka kita sebagai anak tanah Adonara, anak Nusa Tadon, hanya sebatas berbangga bahwa kita adalah “Putera Adonara, Adonara tumpah darahku”, tidak lebih. Taka ada hal lain yang patut kita jadikan kebanggaan. Karena kita hanya giat menguras pesona dan keanggunan Adonara. Tetapi enggan berupaya mendukung pelestarian Nusa Tadon tercinta. Secara langsung atau tidak langsung kita telah menyumbangkan peran untuk memporak porandakan pesona Adonara dan meremehkan kemurnian budayanya. Secara sengaja atau tidak sengaja kita telah berandil memperkosa keasrian Adonara.
Ketika menerima burung nuri merah dan kemudian melepaskannya kembali, Bung Karno dalam amanat singkatnya menyisipkan pesan, “Ata Adonara, ake mai belo weki”. Rupanya pesan singkat ini hanya mempan secara harfiah dan tidak mempan secara maknawi. Bunuh membunuh dan perang tanding antar kelompok etnis sudah mengenyah dari Adonara. Namun pelampiasannya justru fatal. Pesona Adonara-lah yang dibabat, ditebas nilai dan kemurniannya. Hakikat orisinalitas budaya Adonara sudah hilang sirna, melayang menjauhi bumi persada Adonara.
***
Di zaman ini ada banyak orang yang turun ke gelanggang untuk mementaskan “hèdung” (tari perang), dalam derap-derap irama yang ditabuhkan dari gong dan gendang. Dalam pagelaran-pagelaran desa, entah demi meramaikan pengresmian balai desa, pelantikan kepala desa, atau acara-acara lainnya, hèdung dan solè oha’. Gemerincing giring-giring meningkahi bunyi gong dan gendang mewarnai asyiknya pergelaran tari perang yang bernama “hedung” ini.
Seperti apakah hedung sesungguhnya? Hedung dikembangkan menurut wiraga emosional masa lalu, ketika bumi Adonara masih marak-maraknya berperang. Baik perang antar kelompok dalam desa, maupun perang antar desa atau antar wilayah/etnik. Pada dasarnya, hedung merupakan pencitraan:
Gambaran luapan/cetusan emosi dalam jingkrak-jingkrak menantang lawan (nenang-naèng), ditingkahi teriakan-teriakan dan sorak-sorakan menantang (gerek-boleng, orong-iling) oleh perorangan maupun oleh sekelompok orang.
Luapan kegembiraan dan penyemangatan ketika dilakukan upacara persiapan perang, seperti: mula ekeng (mendirikan bambu bercarang tujuh) – peri wato (mendirikan natu) – hodi muhuk saga wangu (menerima irisan jahe untuk dimamah, menerima penyemangatan perang). Menghormati kaum pria yang sedang menerima semangat dan kekuatan berperang, kaum ibu berjingkrak bersukaria, membangkitkan semangat dan keberanian kaum pria, mengacung-acungkan pisau sebagai ungkapan kesediaan kaum ibu meretas padang rumput dari tali temalian padang (tawi talè’ – getung amut) untuk membebaskan jalan sehingga kaum pria tidak dijerat tali padang dalam perjalanannya ke medan perang (ho’ing rarang, pèpa’ èwa).
Luapan sukacita merayakan kemenangan perang, menjemput kepala korban perang (hodi kotek rongot).
Perwujudan keriangan spontan atas suksesnya acara “bèlo bokang” (acara memancung leher hewan kurban), yang biasa dilakukan saat usainya mendirikan lango bèl’en dan oring bèle’ (rumah dan pondok adat bagi sebuah suku/marga)
Hedung adalah tarian berkelompok, yang dapat dikategorikan dalam jenis tarian massal. Hedung biasanya dibawakan untuk menyemarakkan sesuatu momen penting, yang dipergelarkan di “namang” (halaman umum yang biasa digunakan untuk acara-acara massal, pergelaran hedung, pergelaran sole’/oha’,dan keramaian lainnya). Dalam sebuah pergelaran acara hedung, dapat melibatkan barisan-barisan hedung dari kampung-kampung tetangga, yang tampil kelompok demi kelompok menurut gilirannya. Hedung dipergelarkan karena beberapa alasan ataupun tujuan, seperti:
Menjemput dan atau mengiringi pejabat daerah dan pejabat negara, tamu-tamu yang diagungkan, atau orang yang dijadikan sebagai tokoh sentral sesaat (seperti menjemput haji yang pulang umroh, penjemputan imam baru), dan lain-lain.
Meramaikan sebuah sukacita desa, seperti: peresmian rumah ibadat, peresmian sekolah, HUT Perak/Pancawindu/Emas sekolah, pelantikan kepala desa, pembukaan dan penutupan turnamen sepak bola, dan lain-lain.
Hiba nuüng mayang (mengenyahkan hama, wabah, malapetaka) dan turo rehing (karma atau kutukan) yang melanda sebuah kampung atau wilayah, misalnya: hama tikus da ataun hama belalang di kebun petani, gerombolan anjing yang menyerangi ternak kambing/domba, wabah penyakit, ataupun kematian beruntun dalam desa. Bunyi gong-gendang dan gemerincing giring-giring diyakini sebagai yang bertuah untuk menyatakan kepada inti bumi, bahwa di permukaan bumi masih ada manusia yang membutuhkan hidup aman, nyaman, dan tentram.
Properti yang biasa digunakan dalam membawakan tari hedung terdiri dari: “kenubè/pèda” (parang), “belida” (pedang brujung runcing), “gala” (tombak), “dopi atau labi” (perisai, tameng), serta “lado” (dasarnya labi, namun galahnya dibuat panjang mencapai 5 – 7 meter, yang pada ujungnya ditatah dengan rumbai-rumbai berbahan ijuk). Dopi dan labi terbuat dari kayu dadap (rerap: sejenis kayu ringan). Uniknya, kayu ringan tidak mempan ditembusi tombak, karena dengan struktur urat kayunya yang liat-alot sehingga tidak mampu terbelahkan sebilah parang tajam sekalipun.
Aksesori penari hedung di kepala ialah “kenobo” (mahkota sederhana) yang terbuat dari “koli lolong” (daun lontar) atau “kobo” (janur). Kenobo, entah dari daun lontar atau janur yang hanya mempunyai satu simpul saja disebut kenobo tara ehak, dan pemasangannya di kepala selalu dengan posisi simpul di jidat/dahi. Kenobo dapat pula dibuat dalam simpul depan belakang, yang dalam penempatannya, simpulan pangal berada di jidat. Pada kaki kanan dan kiri penari hedung, selalu dipakaikan rangkaian giring-giring. Kadangkala kepala barisan penari hedung mengenakan aksesori kepala yang disebut “rongot” (pola tanduk yang dihiasi bulu-bulu surai dan bulu-bulu ekor kuda yang dililit dengan perca kain berwarna merah).
Penari hedung yang memegang belida (pedang) biasanya menggunakan labi di tangan kirinya, dan mengenakan dèko sèlè’ (celana tenunan berwarna lurik hitam dan abu-abu, yang jahitan kilnya jauh di bawah, sekitar 10 – 15 cm di atas ujung kaki). Penari hedung dalam tampilan seperti ini, mewakili satria perang masa lalu yang pantang menyerah, pantang mundur, bahkan pantang lari, dan ia bertempur sampai memperoleh hasil menang atau kalah, hidup atau mati.
Jenis tenunan yang umumnya dipakai penari hedung, baik laki-laki maupun perempuan, disebut “krèmot” atau “nowing” ditambah dengan belitan “senaè” (selendang tenunan) pada bahu untuk laki-laki, dan belitan senaè pada bahu dan dada untuk prempuan. Krèmot atau nowing dipakai dengan cara “seking” (dililitkan dipinggang yang diperkuat dengan sabuk atau ikat pinggang). Ikat pinggang di masa lalu digunakan “kemiha koli” (tali pita lebar dari irisan dada pelepah lontar). Selanjutnya penari hedung sekarang ini menggunakan ikat pinggang yang disebut “kemada” (ikat pingggang ala Jawa-Madura). Seking kremot atau nowing selalu dalam tatanan: “heb’ang” (ujung) bagian belakang serata tumit, bahkan sampai terinjak oleh tumit. Hal ini menggambarkan kesatriaan prawira perang yang pantang mundur.
Itulah hedung, tari perang ala Adonara, terlebih di wailayah “dulhing” (wilayah Hinga, Lambunga, Witihama). Hedung tidak laku dalam iven-iven pergelaran nasional, karena sejak awal masuk hingga usai menarikannya, tata geraknya monoton. Sehingga kesannya monoton.
Horinara, 20 Agustus 2012
kren tulisannya
BalasHapusLuar biasa bahasa sastranya.Diusulkan diterbit dalam bentuk buku.
BalasHapus