Sabtu, 25 Juli 2015

PESONA PERKAMPUNGAN TUA

PESONA PERKAMPUNGAN TUA
seuntai mutiara yang hilang

(OPINI )

oleh
david kopong lawe

ADONARA yang sama kita cintai adalah bumi Nusa Tadon, yang senantiasa merdu disapa sanjung dengan nama timangan,

Nusa Tadon Adonara
Tana Nara Nuha Nebon
Nusa Tadon Tana Geto
Lama Nulan Holot Bage...

ADONARA ADALAH BUMI PERSADA, pulau tumpah darah yang berada dalam lingkup etnis Lamaholot. Patut dibanggakan bahwa dalam hal membangun diri, Nusa Tadon Adonara memiliki citra yang luwes, yang secara perlahan tapi pasti menyesuaikan diri dengan derap laju pembangunan dan perputaran waktu sesuai dengan definisi istilah Lamaholot.
Tetapi disini, di tanah Tadon Adonara patut disayangkan, te;ah raib beberapa carik pesona “tempoe doeloe” yang mestinya menjadi kebanggan anak-anaknya di zaman ini. Beberapa pernik budaya masa lampau kini sirna. Mungkin disebabkan oleh kelalaian anak negerinya yang menyepelekan nilai emas masa lampau dalam napas kepurbakalaan. Karena terlanjur hanyut dalam arus modernisasi dan mabuk kepayang dikejar perubahan zaman. Yang mau saya angkat sebagai bagian penyesalan saya meratapi kehilangan ini adalah “Pesona Perkampungan Tradisionil”.

Di manakah “kenere/kenerin” (Tenaran matan = Pintu Gerbang) yang semestinya berdiri anggun menyambut siapapun yang datang bertandang ke desa? Dimanakah “Saboratu” (patung manusia/lelaki) sebagai wujud penjaga gerbang? Padahal dia adalah wujud penjaga yang berperan ganda. Ia (Saboratu) adalah simbol yang bertampang heroik mempertahankan desa tua dari ancaman musuh-musuh yang jahil. Tetapi boleh juga bertampang ramah dan lemah lembut menerima siapa yang datang sebagai tamu, serta santun menghantar pergikan sang tamu yang kembali pulang atau merestui anak desanya yang turun ke medan tempur dan medan kerja.
“Nobo Merik”, yang berwujud tancapan batu-batu pilihan sebagai tempat duduk para penatua desa, porak poranda bahkan ada yang ikut terbenam sebagai material perbaikan dan pembangunan jalan raya. Uh, saying!
“Namang” (halaman) sebagai tempat digelarkan berbagai atraksi dan aneka ritus, kian sempit bahkan hilang diganti berjejalnya rumah-rumah penduduk yang tidak berpihak pada makna historis-estetis. Pancangan kayu berlapis ijuk yang disebut “menula” sebagai tempat memohonkan bantuan Lera Wulan Tana Ekan untuk menolak bala dan wabah (nuung mayang) kini tiada lagi. Kini berada nun jauh di balik rabun anak-anak bumi di zaman serba baru ini.

“Bale” dan “Sebaun” sebagai tempat pertemuan adat berganti rupa dengan dibangunkan Bale Desa megah yang konon semakin menjauhkan warganya dari warna solidaritas (kesetiakawanan) sosial. Yang akhirnya memupus pergikan kemurnian nilai “hayu-baya” (perjanjian = kesepakatan) yang berarti memudahkan nilai dan hakekat demokrasi, yang menghantar anak dan warganya menjadi insan individualis serta menghapus nilai gotong royong.
Kemanakah “ko-ke/koke-bale” sebagai tempat para penatua desa dan para kepala suku memohon restu nenek moyang? Kemanakan kekuatan magis “eken” serta “Nubanara” ? Oh ya, yang satu ini memang masih ada dan terjaga, namun penghayatan akan nilai mistisnya semakin kabur, dihadang kilau gemerlap modernisasi. Padahal merupakan “ike-kewaat” dan “kuat-kemuha” (kekuatan) lewotana serta segenap warganya.
Di pinggiran perkampungan tradisional semestinya kita temui “laka” dan “urut wai”. “Laka” adalah pondok serta lingkungannya sebagai tempat berlangsungnya pesta perburuan, yang mana di samping pondok berdirilah eken sebagai tempat digantungkan rahang-rahang hewan hasil buruan. Kini tidak ada lagi. “Urut wai” sebagai tempat berlangsungnya upacara ritual memohon turunnya hujan, kini hilang dari pelataran-pelataran perkampungan tua itu.

Ini merupakan kekalahan kita, anak-anak Adonara. Kita dikalahkan oleh arus zaman ini sehingga kita mengupetikan keunikan ini ke liang bumi yang paling dalam. Maka semuanya raib dan punah. Di kemudian hari, bahkan sejak sekarang ini, kita serta anak cucu kita menjadi rabun mata dan rabun ingatan untuk mengenang, mengenal dan menghargai hal-hal ini. Dalam angan anak cucu kita terbayang seolah perihal unik indah ini adalah milik negeri antah berantah nun jauh di ujung dunia.

Inilah mutiara yang hilang.
Dan tidak hanya itu. Adonara akan kehilangan banyak pernik dan pesona budaya lainnya. Termasuk di dalamnya berbagai legenda, cerita-cerita kesejarahan, dan cerita-cerita heroik di masa kolonial. Karena semua kekayaan itu tidak pernah terhimpun secara tertulis. Semuanya, hanyalah kisah-kisah tutur lisan dari generasi ke generasi. Generasi kedua menceritakannya kepada generasi ketiga dengan sedikit perubahan versi, atau melalaikan sebagian. Maka meranalah generasi keempat dan seterusnya yang menerima dan menceritakan kisah-kisah yang tidak sempurna. Maka, ”biarkan sebutir mutiara hilang, dari pada menghilangnya seuntai mutiara”. Karena akibatnya adalah kita tidak pernah lagi memiliki apa-apa yang boleh kita banggakan.

Horinara medio juli 07

Sabtu, 18 Juli 2015

TEGAR (CERPEN)



T E G A R

(david kopong lawe)





Doni menggaruk-garuk dagunya yang tidak gatal. Dagu yang alpa dicukuri pada hari ketiga, yang dimahkotai uban sebagaimana bulu-bulu cambang serta rambut di kepalanya. Sebagai seorang guru tua yang telah banyak makan garam belajar mengajar, batin bapak Guru Doni berkesimpulan, “Guru itu identik dengan listrik. Ketika lampu listrik aman menyala semua orang senang, tanpa berpikir dan berniat mempersembahkan kata terima kasih bagi teknisi yang sedang tugas. Namun ketika lampu listrik di rumah-rumah padam semua pengguna listrik menggerutu, mengumpat, bahkan memaki-maki petugas yang belum tentu menjadi biang salah. Padahal padamnya  tersebut diakibatkan oleh penolakan warga untuk memangkas dahan pohon yang menghalangi jaringan lstrik ke kampungnya.” Doni meneguk kopi pahitnya dengan  nikmat, mengisi hari bertangga merah, untuk sejenak beristirahat, kemudian batinnya kembali berujar tak terdengar, “Listrik di mana-mana sama dengan guru. Ketika anak didik dapat nilai bagus dengan rata-rata melampaui kriteria ketuntasan minimum, tidak adak ada seorangtuapun yang mmemuji kinerja guru minimal dengan mengucapkan terima kasih. Namun ketika anak murid mendapat nilai jelek dan berprestasi buruk, guru diumpat bodoh, tidak tahu mengajar.”
Doni tersenyum kecut merasa lucu dengan permenungannya di teras rumanya sendiri. Masyarakat merasa terharu dan berempati kepada guru apabila anak murid menyanyikan Hymne Guru, yang diakhiri dengan lantunan larik terakhir, “engkau patriot pahlawan bangsa… tanpa tanda ja…sa.” Sebuah keharuan dan empati semu, karena mereka merasa janggal ketika pada suatu kesempatan anak-anak murid menyanyikan Hymne Guru dengan lantunan lirik pada larik terakhir, “engkau patriot pahlawan bangsa… pembangun insan cendekia.” Batin mereka sepertinya menolak bahkan membantah pergantian lirik pada larik terakhir…. Lagu berakhir tanpa tepukantangan, dan Guru Doni semakin kecut tersenyum.
Bapak Guru Doni kembali teringat sebuah peristiwa sensatif ketika anak-anak Guru Doni menggelar sebuah malam hiburan. Kala itu Guru Doni duduk bersisian dengan seorangtua murid, yang taklain adalah pejabat pendidikan yanki Kepala Unit Pelaksana eknis Dinas Pendidkan di kecamatannya. Di panggung digelar seduah tarian lokal yang dimodifikasi, sebuah tarian yang memukau. Si orangtua murid menyikut Guru Doni dan berbisik, “Lihat anak yang paling tengah itu, guru. Dia menari gemulai seperti ibunya di masa muda. Dia anak saya.” Acara pagelaran terus berlangsung. Tibalah acara berikut, sebuah sajian fragmen tari. Seiring bacaan narasi dipadu dentang gong-gendang yang ditingkahi efek-efek suara melengking dan mendesis, para pembawa fragmen tari bergerak gemulai. Klimaks fragmen tari ditutup dengan tabuhan perkusi yang mendentum, dan seorang penari merentang tangan sebagai sayap semu meloncat gemulai kemudian menjerembabkan tubuhnya dengan gemulai mempesona. Si orangtua murid kembali menyikut saya, sambil berkata, “Kenapa anak debil goblok itu disuruh menari juga?” Guru Doni merasa jengah, orang tua murid yang aneh.
Terhadap anak yang sama telah dikenakan pujian dan kritikan sekaligus oleh pengampuh pendidikan. Fatalnya si anak murid adalah anak kandung si pejabat pendidikan. Untuk mengakhiri pagelaran Guru Doni naik ke panggung dan berdiri di hadapan mokrofon. Setelah mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan apresiasi segenap orangtua murid, Guru Doni berkata, “Di sekolah ini tidak anak debil yang goblok. Ini bukan sekolah luar biasa, ini sekolah dasar biasa. Semua acara dalam pagelaran ini sudah disaring pada saat gladi resik. Tidak ada acara yang salah. Para pembawa acara adalah anak-anak Anda, segenap orangtua murid yang hadir. Tidak ada seorangpun anak debil dan goblok yang ikut menari. Fragmen tari yang Anda saksikan ditutup dengan jatuh menghempasnya si Garudea, rajawali raksasa sebagai bukti dan bakti kesetiaannya merangkul bumi Nusantara, setelah berhasil membebaskan ibunya dari cengkraman penjajahan. Nah, yang debil goblok itu si penari atau salah seorang dari kalangan penonton? Di sekolah dasar ini kami pantang memvonis anak-anak dengan sebutan bodoh, debil, ataupun goblok. Di sini adalah lembaga di mna kami mendidik, mengajar, membimbing anak-anak didik kami dengan semangat asah, asih, dan asuh. Bukankah pendidikan memerlukan kecermatan dalam menilai sikap, pengetahuan, dan ketrampilan anak-anak didik?” Guru Doni turun dari panggung, penonton bubar setelah menyalami Guru Doni. Si pejabat yang adalah pejabat pendidikan entah sudah berada di mana. Inilah pahit manisnya nasib para pelaksana pendidikan di ujung lini yang menghuni dan berkiprah di pelosok Nusantara.
Dengan langkah enggan Guru Doni masuk ke kamar. Seberapa lama kemudian Guru Doni pun kembali ke tempat duduknya semula. Dikepitnya sebuah dokumen-keeper cukup tebal. Dokumen-keeper tersebut diletakkan di atas meja, lalu jarinya membuka halaman demi halaman dokumen-keeper yang terkesan kumal. Ia menemukan selembar piagam ekslusif berlogokan Garuda Pancasila dengan cetakan tinta emas di pojok kanan atas lembaran piagam, serta logo Tut Wuri Handayani yang tercetak dari tinta emas pula di pojok kiri atas lembaran piagam tersebut. Di pojok kiri bawah dari lembaran piagam tertera nama dan tandatangan megah Yang Maha Agung Mentri Pendidikan Nasional. Selembar piagam berskala nasional kebanggannya sebagai guru sekolah dasar di desa. Piagam Nasional dengan penyertaan nominal lima juta rupiah. Piagam Nasional yang diterimanya ketika diundang ke Jakarta untuk turut serta dalam Perayaan Hari Pendidikan Nasional di Senayan beberapa tahun silam. Piagam tersebut diperoleh Guru Doni karena dinilai sebagai guru ideal, guru kreatif, dan guru inspiratif, dalam pengujian prestasi berskala nasional oleh LIPI, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia bersama Dirjen Dikdasmen Mendiknas RI. Guru yang mampu menghasilkan temuan baru dalam pola pembelajaran yang jauh lebih efektif dari pembelajaran kontekstual, pembelajaran berbasis masalah, dan pembelajaran dengan pendekatan scientifik. Pada hari ini, ketika ia menimang piagam ekslusif kesayangannya, nomina penghargaan yang lima juta rupiah sudah ludes tanpa sisa sepeserpun.
Guru Doni semakin kecut menebar senyum. Piagam ekslusifnya telah membuahkan cemburu dan iri hati pejabat pendidikan, yang sekarang dikenal dengan sebutan keren Kepala UPT Dinas PPO Kecamatan. Sang Kepala UPTD merasa iri dan dendam, karena pernah dilecehkan Guru Doni saat pagelaran seni budaya sekolah. Nama Guru Doni yang tercantum dalam nominasi peserta PLPG dicoret. Maka jadilah, Guru ideal, gugu kreatif, dan guru inspiratif Doni tidak berpeluang untuk disertifikasi. Ketika kolega gurunya dipanggil untuk mencairkan dana sertifikasi guru, Guru Doni senantiasa iklas menyaksikan penandatanganan Keterangan Aktif Mengajar dan Keputusan Pembagian Tugas Mengajar oleh Kepala Sekolah. Guru Doni tulus menyaksikan Kepala Sekolahnya dengan tersenyum, menyertakan pesan bagi mereka, “Manfaatkan dana sertifikasimu, untuk mengembangkan kompetensi dan kinerjamu. Jadilah guru yang terbaik dalam wilayah gugus sekolah kita.”
Guru Doni membatinkan doa bagi mereka. Dirinya tidak berani berangan untuk mendapatkan kesempatan ikut PLPG yang membuahkan dana sertifikasi bagi diri dan keluarganya. Dalam hati ia selalu membanggakan piagam perolehannya, yang ia hargai jauh melebihi puluhan juta rupiah dana setifikasi.
Somi, istri setianya yang sudah terbiasa mengenyam kepasrahan Guru Doni, tiba-tiba muncul di hadapannya. Ia duduk di samping suaminya, Guru Doni, demikianlah sapaan akrab warga desa tempat ia mengabdi. Sambil tersenyum manis Ina Somi, demikian sapaan akrab masyarakat bagi istri Guru Doni berkata lirih menegarkan hati suaminya, yang sedari dulu tetap tagr dalan jati diri keguruannya, “Anggap saja kita ini warga Jepang di tahun-tahun antara 1945 – 1947. Ama Guru akan dihormati Kaiser Hirohito.” Guru Doni menoleh kepada istrinya dan menebar senyum iklas, “Kita ini orang Indonesia yang ber-Pancasila, ina.”
“Ina tahu, kalau kita ini orang Indonesia. Anggap saja kita ini orang Jepang, ama. Maka ketika desa tempat kita berpijak ini dilebur bom atom, Kaiser Hirohito akan segera menyebar para petugas kepercayaannya untuk mensensus berapa guru yang masih hidup. Ama akan masuk dalam daftar sensus dan terus mengabdi sebagai guru serta mendapat perhatian ekstra dari pemerintah, ama,” kata Ina Somi menerangkan.
“Sekedar menganggap dan berangan-angan, itu sah-sah saja, ina. Tetapi saya tidak mau jadi guru utopis dengan impian kosong. Saya mau jadi seperti Guru Oemar Bakri, pegawai negeri yang tegar menyandang tas hitam dari kulit buaya, dan berkendaraan sepeda kumbang.”
Ina Somi tersenyum. Ada kelegaan yang terpancar dari senyum Ina Somi, selaras dengan senyum lega Guru Doni setelah mengidentifiksi dirinya sebagai Guru Oemar Bakri. Guru yang mengabdi empat puluh tahun lebih, tapi tidak pernah makan hati. Maka Ina Somi berdiri dan mengajak Guru Doni suaminya masuk rumah untuk makan malam.
Hari-hari terus berlalu, Guru Doni tetap setia pada rutinitas kerjanya. Sepeda motor butut hasil kreditan belasan tahun silam selalu setia menemaninya. Sepeda motor butut yang menjadi sepeda kumbang kebanggaan dalam penghayatan Guru Doni. Setiba di kelas idolanya, Guru Doni memajang peta Indonesia yang digambarinya dengan spidol permanent warna hitam pada sehelai kertas manila putih. Anak-anak kelas lima yang dibimbingnya berbaris masuk kelas. Mereka menyalami guru kecintaan mereka, Guru Doni membalasnya dan mempersilakan mereka duduk. “Anak-anak, kita mulai pelajaran kita.” Anak-anak muridnya selalu dengan antusias mengiyakan sapaannya. “Kita akan mempelajari peta yang ada di papan tulis ini. Kalian tahu peta apa ini?” “Peta Indonesia, Pak,” jawab salah seorang anak muridnya. “Peta Negara Kesatuan Republik Indonesia,” koor suara murid-murid lainnya menggema. Sambil menempelkan sehelai kertas transparan pada permukaan peta, ia berkata, “Hari ini kita pelajari letak Indonesia. Perhatikan kertas transparan yang bapak tempelkan lalu deskripsikan letak Indonesia.” Anak-anak muridnya mencermati peta yang dibalut leh transparan. “Ayo, dicermati. Siapa yang sudah dapat jawabannya?” Guru Doni memacu anak-anak muridnya memberikan jawabannya.
Pada lembaran transparan ada garis horison yang mendatari peta dengan angka 00 dan kata katulistiwa dibatasi garis miring dan kata equator di ujung kanan. Ada tulisan Sabang di ujung atas Sumatera, dan Merauke di pojok bawah Irian Barat. Ada tulisan Samudera Teduh di pojok kiri agak mendekati sudut peta bagian atas, dan tulisan Benua Asia di atas gambar pulau Kalimantan. Ada tulisan Samudera Indonesia di pojok kanan bawah, dan tulisan Benua Australia di bawah Pulau Timor. Di sudut kiri atas tertulis angka 1410BT, angka 60 LU serta 110 LS di sudut kiri bawah, dan tulisan 950BT pada sudut kanan atas. Ada tulisan Kep. Sangihe Talaud jauh di atas Sulawesi dan P. Rote di bawah Timor.
“Susah, pak. Bapak ajari dahulu sebelum bertanya,” sela seorang muridnya. “Bapak sudah mengajari banyak dengan menempelkan lembaran transparan ini,” jawab Guru Doni. Anak-anak muridnya kembali menekuni pajangan peta dan lembaran transparan. Beda, muridnya mengacungkan tangan. Guru Doni mempersilakannya, maka Beda mengajukan jawabannya, “Indonesia terletak pada garis katulistiwa atau equator, pada garis 00, pak.” Guru Doni mengacungkan jempol kepada Beda. Usai Beda mengajukan jawabannya, ada banyak tangan-tangan mungil teracung meminta diberi kesempatan menjawab. Guru Doni mempersilakan mereka satu persatu dengan tenang tanpa banyak bicara.
“Indonesia terletak antara 95 derajat Bujur Timur sampai 141 derajat Bujur Timur.”
“Indonesia terletak antara 6 derajat Lintang Utara sampai 11 derajat Lintang Selatan.”
“Indonesia diapit dua benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia.”
“Indonesia meliputi Sabang sampai ke Merauke.”
“Indonesia membentang dari Kepulauan Sangihe Talaud hingga ke Pulau Rote.”
Setiap jawaban anak-anak muridnya diberikan senyum dan acungan jempol Guru Doni.
“Nah, ingat-ingatlah jawaban teman-temanmu. Lalu catatkan letak Indonesia dalam buku tulismu” Anak-anak muridnya tekun mengingat-ingat jawaban teman-teman dan mencatatnya dengan segera. Selesai anak-anak muridnya mencatat, Guru Doni mengajukan tanya jawab lalu menutup pelajaran dengan menyanyikan bersama, lagu Dari Sabang Sampai Merauke.

Itulah Guru Doni, sang guru ideal, kreatif, dan inspiratif. Guru tegar. Guru yang diberi harga selembar piagam nasional. Piagam yang dipayungi Garuda Pancasila dan Logo Tut Wuri Handayani. Hingga hari ini, Guru Doni terus setia di depan kelas, mendarmabaktikan kompetensinya bagi pertumbuhan intelektual dan ketrampilan anak-anak muridnya.
Guru Doni terkenang, ketika dilaksanakan Upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional, sekelompok anak didik menyanyikan Terima Kasih Guruku. Masih segar dalam ingatannya, usai lagu itu berkumandang ia bertepuk tangan, tersenyum dengan mata berkaca-kaca….
Di dalam doamu kau sebut namaku
di dalam harapmu kau sebut namaku
di dalam segala hal,
namaku di hatimu
Tak dapat kubalas cintamu guruku
takkan kulupakan nasehatmu guru
hormat bapa ibu guru,
agar lanjut umurmu di bumi
Trimakasih bapa ibu guru
kasih sayangmu padaku
pengorbananmu
meneteskan peluh tuk kebahagiaanku
Tuhan lindung bapa bu guru
dalam doa ku berseru
tetes air matamu
yang kau tabur dituai bahagia

Ia terus mengabdi dengan semangat sempurna. Menganut jati dirinya dengan terus menerapkan gaya mengajar prima yang ia miliki. Ia yakin, ketika nanti ajalnya tiba, anak laki-lakinya yang jadi dokter di Bandung nun jauh pasti membelikan sebuah pigura indah untuk memajangkan paiagam kebanggaannya di ruang tengah. Ia sungguh yakin, kalau anak perempuannya yang jadi dosen Bahasa Perancis di Airlangga, Surabaya akan menterjemahkan syair Terima Kasih Guruku dalam bahasa Perancis dan memajangkannya bersama foto dirinya.
Ternyata……, seorang guru ideal yang sangat diidolakan anak-anak murid, guru kreatif, guru inspiratif dan inovatif sulit mendapat tempat yang layak dalam bilangan profeisonalitas keguruan. Karena pemerintah dan segenap jajaran pengampuh pendidikan lebih mementingkan kurikulum. Lebih menomorsatukan guru yang tidak pernah alpa menyusun dan menulis rencana pembelajaran dengan rapi. Para pejabat dan pengapuh pendidikan di tingkat unit pelaksana teknis menuntut kelengkapan butir-butir rencana pembelajaran dan serbaneka rinciannya, terutama uraian tertulis tentang kegiatan eksplorasi pembelajaran, kegiatan elaborasi, dan konfirmasi anak didik mempertanggungjawabkan hasil pembelajaran. Tuntutan instan yang menutup kemungkinan guru-guru mengembangkan sayap kompetensinya, dan membunuh peluang mengembangkan kreativitas dan isnpirasi brilian guru-guru.

d-Klawes
guru tenu’en
horinara, 25nop2014




(bacaan pengganti sambutan
di hadapan teman-teman saat terima sk-pensiun)

Mahadaya Perempuan Mahadaya Keibuan Ibuku

Mahadaya Perempuan
Mahadaya Keibuan Ibuku

d’Klawes
(David Kopong Lawe)


SECARA neurologis perempuan lebih luwes daripada pria. Pada dasarnya perempuan memiliki perkenan budaya sebagai kaum terhormat. Perempuan terdiri dari kata dasar “empu” yang diberi imbuhan awalan “pe” dan akhiran “an”. Empu artinya golongan terhormat, kaum terpandang yang harus diagung-agungkan dan ditempatkan pada kedudukan terhormat. Pe–an berarti himpunan, kesatuan, atau persekutuan. Jadi perempuan berarti persekutuan kaum feminitas yang berada dalam sebuah lingkup terhormat dan yang patut ditempatkan pada tempat terpandang. Tidak boleh diremehkan atau dilecehkan. Kaum perempuan adalah golongan kaum perkasa yang memiliki ketengangan dan kebijaksanaan. Perempuan adalah kaum lemah tetapi perkasa dalam kelemahlembutannya. Kaum yang lebih menggunakan rasa, sensitif mengandalkan perasaan itu sendiri.

Milliu atau lingkup pergaulan kaum perempuan secara kodrat alami adalah: (a) Perempuan sungguh terbiasa dengan semua kerumitan hidup dalam kehidupan sehari-hari, (b) Perempuan lebih mempunyai daya tanggap terhadap sebuah kondisi atau perubahan-perubahan, (c) Perempuan selalu trampil dalam hal urus-mengurus, merawat, dan menata, (d) Perempuan lebih melibatkan perasaan serta mampu menghormati perasaan itu sendiri, (e) Perempuan senantiasa bersungguh-sungguh mencintai kerapian, kebersihan, dan keteraturan etestika, (f) Perempuan selalu mampu menjaga afiliasi atau hubungan pertalian dan silaturahmi kekerabatan dan kekeluargaan.

Sesungguhnya kodrat emansipasi antara pria dan wanita merupakan bawaan alamiah setiap manusia. Karena di dalam diri setiap manusia, melekatlah daya animus dan anima. Pertama, dalam diri seorang perempuan ada daya naluritif yang disebut animus: unsur-unsur kepriaan, atau bayang-bayang kepriaan serta unsur masculinum yang berada jauh di dasar sanubari seorang perempuan. Hal inilah yang mendorong seorang wanita mengarah kepada kecendrungan seorang pria. Misalnya: rambut tomboy, merokok, bercelana panjang, kejar karier, main bola kaki, dll. Kedua, dalam diri seorang pria melekat daya anima: yakni bawaan kewanita-wanitaan, atau bayang-bayang kewanitaan serta unsur feminitas yang ada di bawah alam sadar seorang laki-laki. Daya anima inilah yang mendorong seorang pria meniru-niru bawaan wanita. Misalnya: pria gondrong, suka pakai bedak, pakai anting, dll.


KENYATAAN menunjukkan bahwa paling sedikit 13,4 % rumah tangga di Indonesia dikepalai oleh perempuan. Ada yang berstatus janda dengan mengurus anak-anak dan rumah tangga, dan ada pula yang berstatus perawan tua di mana mereka berperan mengepalai ibunya yang sudah tua serta adik-adiknya yang belum nikah. Kadangkala masyarakat memandang miring terhadap status janda dan status perawan-perawan tua di kampung-kampung. Tidak demikian dengan di Adonara, Flores Timur, di mana para janda dan para perawan tua yang tergabung dalam barisan PEKKA, Perempuan Kepala Keluarga. Dalam perannya sebagai kepala keluarga, mereka mampu menunjukkan keberadaannya sebagai tulang punggung keluarga yang mampu menghidupi keluarga sekaligus mengelola usaha bersama dalam kelompoknya. Mereka selalu membangun kekompakkan dan kesepahaman dalam menegakkan perannya sebagai perempuan mandiri, di balai PEKKA Kelubagolit yang berlokasi di lokasi antara Redontena dan Hinga. Juga balai PEKKA Ile Boleng yang terletak di desa Bayunta’a. Dalam diri mereka sebagai warga PEKKA, ibu-ibu dan perepuan ini memerankan fungsi animus dan anima sekaligus. Sebagai kepala keluarga (yang semestinya “bapak”), dengan mendarmabaktikan keibuannya secara total dan tulus. Mereka membangun pola kerja yang diliputi semangat saling membantu, saling melengkapi, dan saling mengajari dalam berbagai hal. Mereka adalah perempuan yang bermahadaya “ibu”. Mereka adalah ibu yang bermahadaya “perempuan”.

Jika kita membuka lembaran usang khasanah spiritual Nusantara, kaum wanita disebut dengan per-EMPU-an. Empu selalu digunakan untuk menyebut seseorang yang memiliki kelebihan daya cipta, kelebihan pesona, waskita, berilmu tinggi, dan ahli sastra, serta memiiki kemampuan menciptakan sesuatu yang agug.
Maka sangatlah tepat para leluhur bangsa Nusantara mempernamai wanita dengan “perempuan”. Tidak hanya dilihat dari segi jenis kelamin, tetapi dalam pengertian yang lebih mulia. Pencipta keanggunan rumah tangga manjadi sebuah rumah tangga agung. Pelimpah kasih sayang, bahkan dengan tulus iklas mencurahkan sari kehidupannya bagi anak manusia, melalui air susunya, air susu ibu. Maka saya patut menyerukan berulang-ulang dengan suara lantang: Mereka adalah perempuan yang bermahadaya “ibu”. Mereka adalah ibu yang bermahadaya “perempuan”. Saya yakin Anda dan semua pembaca lainnya sependapat dengan saya, untuk meneriakkannya ke seluruh penjuru jagad raya.

Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir-bibir manusia. Dan “ibuku” merupakan sebutan terindah. Kata yang penuh semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.
Ibu adalah segalanya. Ibu adalah penegas kita  di kala lara, impian kita dalam sengsara, rujukan kita dikala nista.
Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan, dan toleransi. Siapapun yang kehilangan ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci, yang senantiasa merestui dan memberkatinya.
Alam semesta selalu berbincang dalam bahasa ibu. Matahari sebagai ibu bumiyang menyusuinya melalu panasnya. Matahari tak pernah meninggalkan bumi, sampai malam merebahkannya dalam lentera ombak, syahdu tembang beburungan dan sesungaian.
Bumi adalah ibu pohon dan bebungaan.
Bumi menumbuhkan, menjaga dan membesarkannya. Pepohonan dan bebungaan adalah ibu yang tulus, memelihara bebuahan dan bebijian.
Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud.
Penuh cinta dan kedamaian.

Demikianlah Khalil Gibran menempatkan ibu sebagai keutamaan yang paling mulia.
Seorang ibu harus menjadi “IBU”, inti budi yang utama. Menurut Gibran, ibulah yang membawahi semesta peranakan di atas bumi dalam berbagai wujud dan ciri.
Gibran mengingatkan kita untuk senantiasa menjaga kemurnian nilai seorang “ibu” dengan semesta “keibuannya”. Ibu adalah mahadaya semesta yang selalu serasi dalam pengibaratan manapun.

Selanjutnya, Hiro Tugiman, tentang Ibu dalam bukunya yang berjudul “101 Pernik Kehidupan” (1996, 11) menuliskan:

IBU adalah kata penuh harap dalam cinta, hangat serta sayang yang mengalir dari relung-relung hati manusia.
IBU adalah segala-galanya, penghibur di kala duka, harapan di waktu derita, dan sumber kekuatan dalam kelemahan.
Manusia siapa yang tidak berlindung di perutnya.
Dan melihat dunia ini tanpa melali rahimnya?

Paus Yohanes Paulus II, dalam “Mulieris Dignitatem” (Martabat Kaum Wanita), tidak hanya memandang wanita dalam kesetaraannya dengan pria. Lebih dari itu Paus menempatkan wanita pada posisi lebih tinggi dan terhormatdengan menjunjung harkat wanita paling natural dari wanita, yaitu ke”wanita”annya, maka demi rasa hormat kepada perempuan, Paus menuliskan bahwa:

Seorang wanita menampilkan suatu nilai istimewa oleh kenyataan bahwa ia adalah seorang pribadi manusia,
dan sekaligus pribadi yang istimewa oleh kenyataan kewanitaannya. Seluruh keluarga, juga seluruh bangsa berutang budi kepada wanita.

Kalau perempuan sungguh berjasa, sudah seharusnya dunia dan seluruh umat manusia memberikan rasa hormat yang layak dan penghargaan setinggi-tingginya kepada kaum perempuan. Penghormatan dan penghargaan konkrit yng semestinya ditunjukkan adalah membela hak-hak prempuan. Pada dasarnya perempuan memiliki kesetaraan hak dengan pria. Di samping itu jika kita lebih teliti, maka perkembangan dunia dan pertumbuhan umat manusia, bergantung juga pada “kepriaan” kaum perempuan. Bukan hanya karena ada kepriaan kaum pria.

Tanggung jawab perempuan terhadap kehidupan terus mereka jalankan perempuan tanpa mengenal kata berhenti. Perempuan atau lebih tepatnya kaum ibu tahu cara paling tepat dan paling ampuh untuk memeihara kehidupan ini. Mereka tahu cara paling lembut dan sederhan menurut hukum asah, asih, asuh untuk mendidik dan mengasuh anak-anak, bukan menurut cara guru mengajar di depan kelas, melainkan hanya dengan keramahtamahan purna memakaikan pakaian dan kelemahlembutan paling tulus mengikatkan tali sepatu mereka.

Senada dengan Khalil Gibran, Hiro Tugiman dalam 101 pernik Kehidupan, menulis:
Matahari adalah ibu bumi, yang memberikan pelukan hangat dan nyaman. Tak kan meninggalkan semesta alam sebelum menidurkan si bumi pada tiupan air laut dan nyanyian burung menyongsong malam tiba. Bumi pula yang menyusui pepohonan dan bunga-bunga, menampung jejak dan nakalnya air hujan, dan dengan senyum menerima tamparan guntur serta petir.

Lelaki yang menulis dengan kata-kata bernada melankolis, bernada menyanjung ibu dan perempuan pada umumnya. Tetapi lelaki jugalah memegang kendali. Sehingga kaum perempuan masih tetap berada di tempatnya, yaitu di bawah supremasi kaum pria. Kaum perempuan menempati posisi tidak pasti. Mass-media dalam dan luar negeri meneriakkan “berdayakan gender”, tetapi strata perempuan tetap menjadi yang diperdaya tipuan slogan gombal. “Hormati hak-hak perempuan”, tetapi pria tidak sudi memberikan batasan yang jelas: “sampai di mana” dan “sejauh manakah batasan hak-hak perempuan”. “Bangkitlah perempuan, kalian setara pria”, tetapi kesetaraan seperti apakah yang telah dilimpahkan oleh kaum pria? Sehingga perempuan yang merindukan persamaan hak dan persamaan derajat menjadi bingung, di manakah semestinya mereka berada?


PBB telah mendeklarasikan “Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhaap Perempuan”. Indonesia menangkap gema konvensi PPB ini dengan mendeklarasikan “Hentikan Kekerasan Dalam Rumah Tangga”. Penulis-penulis perempuan, seperti: Jane Cary Peck, telah menulis sebuah buku berjudul “Wanita dan Keluarga, Kepenuhan Jati Diri Dalam Perkawinan dan Keluarga”, disusul Ruth Tiffany Barnhouse, yang menulis buku berjudul “Identitas Wanita, Bagaimana Mengenal dan Membentuk Citra Diri”. Sepertinya dasar hukum dan petunjuk-petunjuk telah genap, tetapi perempuan masih ber-statusquo. Pelanggaran hak perempuan oleh kaum pria, ditanggapi kaum pria sendiri sebagai sebuah kewajaran. Pelanggaran hak-hak perempuan tidak hanya menyalahi masalah hukum, politik, budaya, sosial, dan agama. Semata. Melainkan merupakan masalah kemanusiaan. Oleh karena itu nilai kemanusiaan seharusnya mendapat perhatian lebih, daripada segala macam rekayasa politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Memandang kemandekan mengangkat hak dan martabat perempuan serta menggilanya pelanggaran hak-hak perempuan, Cary Peck menegaskan: Dosa kaum wanita saat ini bukan terletak pada rasa harga diri yang merintangi, melainkan pemingkuran diri oleh perempuan sendiri. Wanita terlalu dan selalu minder, tidak mengenal jati dirinya, tidak mengenal potensi, bakat, dan talenta yang dikaruniakan baginya yang semestinya diolah untuk kepentingan bersama. Perempuan begitu mudah dimanipulasi dan diarahkan untuk tujuan-tujuan tertentu, bahkan sampai merugikan dan mengorbankan diri sendiri.

Berbeda dengan apa yang diutarakan Cary Peck, Ruth Tiffany menjelaskan: Fakta kemunduran perempuan lebih banyak disebaban oleh kesalahan kaum pria. Sudah sejak lama kaum pria melindungi (mengurung) kaum perempuan di balik tembok-tembok patriarkat. Hal mana telah menyebabkan perempuan kurang percaya akan kemampuannya. Karena kungkungan budaya patriarkat, perempuan cenderung mengikuti nilai-nilai umum yang berkiblat dan berpusat pada pria. Hal ini menyebabkan perempuan sulit melakukan penilaian terhadap kemampuan, bakat, talenta, dan kekuatannya sendiri. Kesalahan lainnya dalam skala sangat kecil, disebabkan oleh kaum perempuan sendiri. Yaitu bahwa mereka kurang mengenal serta kurang yakin siapakah mereka sebagai perempuan sesungguhnya.

Sudah saatnya, perempuan harus bangkit sebagai “manusia mahadaya”. Ibu-ibu pun harus bangkit sebagai “ibu mahadaya dalam keibuannya”. Kekuatan moral dan spiritual terbesar tidak terletak pada peran domestik perempuan. Melainkan lebih dari itu, kekuatan moralitas dan spiritualitas perempuan terletak pada prinsip natural kewanitaan. Mahadayanya seorang perempuan ialah memerankan prinsip natural kewanitaannya, menjadi penyelenggara kasih sayang, serta menjadi ibu yang membijaki ke”bapak”an kaum pria. Sudah saatnya kewanitaan seorang perempuan harus ditegakkan dalam citra per-EMPU-an sesungguhnya. Maka perempuan tidak boleh diam dan berpangku tangan. Perempuan semesta harus kreatif untuk sepandai-pandainya memerankan daya animus dan anima yang melekat dalam dirinya sejak semula.



hari ibu,
20 desember 2014


Adonara Nuha Serbitè Nuha Keutamaan Lamaholot

Adonara
Nuha Serbitè
Nuha Keutamaan Lamaholot

david kopong lawe
horinara, 12 agustus 2014



Pendahuluan

Ketika mengelilingi daerah Tanjung Bunga di ujung Flores Timur, para soledaad (serdadu) Portugis di bawah pimpinan M. Cabot berseru, “wooow, flora” ketika memandang hamparan bunga flamboyant dan bunga pecah piring yang lagi mekar dengan maraknya. Seruan inilah yang dipakai untuk menamai Nusa Nipa dengan nama Flores (Pulau Bunga). Batu payung yang ada di perairan Teluk Hading oleh M. Cabot di beri nama “cabo da flora” (1544). Nusa Nipa resmi dikenal dengan nama Flores pada tahun 1936, melalui keputusan Governoor General Belanda, Hendrick Brouwer.

Wilayah Lamaholot yang meliputi : Au’ Gatang Matang, ke Tana Kudi Lèlèn Bala, sampai ke Solo Watan Lèma, ke Nuha Serbitè (Adonara), sampai Nuha Kewèla (Lembata/Lomblèn), ke Tana Lepang Batang (yang kini telah tenggelam karena peristiwa air bah : belèbo lèbo - berèrang rèrang), Tana Muna Seli. Sehingga membentanglah wilayah LAMAHOLOT dari perbatasan Sikka-Flotim, di Hikong-Boganatar sampai ke Tana Muna Seli, Pantar dan Baranusa di Kepulauan Alor. Flores Timur (wilayah governance lama), yang dijuluki Nusa Timu Lera Gere, Bunga Warat Seni Tawan yang terdiri dari Flores Timur Daratan, Pulau Solor, Pulau Adonara, dan Pulau Lembata merupakan bagian dari wilayah Lamaholot yang seyogianya luas.

Membaca kata-kata kunci dalam makna Adonara Nuha Nebon, makna Solor Nusa Nipa, makna Lembata Nuha Kewela Lomblen dapat dipahami sebagai pernak-pernik yang mengungkapkan hilangnya benua Atlantis yang hilang (Chris Boro Tokan: Benua Atlantis Yang Hilang dan Litosferanya). Adonara, Solor, dan Lembata (termasuk Flores Timur Daratan dan Kepulauan Alor) merupakan litosfera, yaitu pecahan lapisan batu-batuan geosfera yang membentuk kulit bumi atau kerak bumi.

Pulau Adonara, Solor, dan Lembata masing-masing masih dikenal dengan nama kepurbakalaannya, sampai kini masih marak dalam kenangan sebagian anak-anak negerinya. Adonara dikenal dengan sebutan Nara Nuha Nebon, Solor dikenal dengan sebutan Solo Watan Lema dan Solor Nusa Nipa, Lembata dengan sebutan Nuha Kewela dan Lomblen.
***
Pé koda doan usu asa, buta mete walan maratana tawan ékan géré: pada zaman dahulu kala, (di saat) lumpur dan tanah berbencah mengering,(di saat itulah) bumi dan segala isinya tercipta. Atau dalam saduran bebas, “Sejak awal mula yang ada hanyalah sabda, yang menjadi asal usul segala sesuatu yang berwujud, di saat itulah lumpur dan tanah berbencah mengering. Maka terciptalah bumi dan alam raya serta segenap isinya.

Ungkapan di atas memacu penghayatan kita bahwa sandaran hidup, falsafah hidup, dan pandangan hidup kita yang telah dipatok nenek moyang ialah “koda”.
tekang di mété kepai koda
tenu di mété hukut kiring
ola doka di kelolo no’ong koda
hodang heré di kesuat no’ong kirin

Di mana ketika buta mete walan mara (mengeringnya lumpur dan tanah berbencah) dan tana tawan ékan géré (muncul kembali bumi baru) nenek moyang kita sudah berada dan hidup dengan selamat di wilayah Lamaholot di atas bumi Adonara.

Karena pada khakikatnya Adonara itu berakar dan berdasarkan  koda, nenek moyang kita telah bereligare menjalin keterikatan dengan koda kiring serta Koda Puken itu sendiri, yakni Lat Allah Rerawulan. Maka di sini saya cantumkan salah satu bentuk religare ke-Adonara-an menurut Yohanes, 1:1-5 dan 10-11,

“Pada awal mula adalah sabda. Sabda itu ada bersama-sama dengan Allah. Dan sabda itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia. Dan tanpa Dia tidak ada sesuatupun yang telah jadi dari segala yang dijadikan. Dalam Dia ada hidup, dan hidup itu adalah terang bagi manusia. Terang itu bercahaya dalam kegelapan, dan kegelapan itu tidak menguasainya. Ia telah ada di dalam dunia, tetapi dunia tidak mengenaliNya. Ia datang kepada orang-orang kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunyaanNya itu tidak menerimaNya”.

Dengan uraian yang sangat terbatas terhadap “pe koda doan usu asa, buta mete walan mara, tana tawan ekan gere”, religare nenek moyang Adonara sudah tertata dengan rapi dan terus melekat dalam setiap perjumpaannya dalam berelasi-sosial. Kutipan Injil Yohanes di atas justru merupakan bukti otentik bahwa nenek moyang kita telah meletakkan dasar religare (keterikatan erat dengan keilahian Allah) yang hakiki dengan menjadikan “koda’ sebagai sentrum kehidupan, koda itu sendirib adalah tali yang memperteguh dan mempererat ikatan nurani nenek moyang kita dengan keilahian Tuhan, Lat Allah Rerawulan hadir sebagai penyempurna alur pikir kita yang mau ber-Lamaholot. Maka benarlah jika dikaitkan dengan filosofi religiositas orang Adonara menyangkut lahir, hidup, dan mati, adalah sebagai berikut :

Koda pulo lodo tuéna na’an ana Atadik’en
kirin léma géré balika na’an bai uhunen tukan
ke mian koda pulo lodo tudaka
kirin léma géré tagana
na’ nai gan ana atadik’en tou

Sabda menjelma menjadi manusia
firman berinkarnasi jadi buah hati
maka ketika bibir telanjur berbicara
(maka) seorang anak manusia
akan terenggut nyawanya.

Adonara, Tadon Tana Geto - Nara Nuha Nebon

Kepustakaan yang sempat ditelusuri (sebagaimana tuturan Chris Boro Tokan) adalah “Gezedenische van Inlander Nuha Nebo” oleh P. H. v. d.  Hulst, SVD (1930), Adonara disebutkan sebagai Nuha Nebon. Adonara yang selalu disebut-sebut dalam nama timangan “Tadon Tana Geto, Nara Nuha Nebon” adalah sebuah pulau yang timbul dan terjadi karena putus dan terbelahnya daratan sebagai tempat kediaman “dewa” (aton, adon, tadon), yang mengakibatkan seluruh inti-sari bumi (manusia, nara, atadiken) kembali besatu padu, berkumpul dan menghimpunkan diri (nebon, rebon) ke pada sumber aslinya dalam keutuhan pulau itu. Dengan demikian sebutan “Tadon Tana Geto, Nara Nuha Nebon” menggambarkan litosfera (daratan baru) sebagai sebuah pulau dalam jajaran provinsi kepulauan Nusa Tenggara Timur.

Atlantis adalah sebuah benua zaman purba yang menjadi kediaman para dewa tenggelam dan hilang. Merupakan peristiwa perulangan hilangnya Taman Firdaus, Taman Eden akibat dosa asal yang dulu ditabur-benihkan oleh seekor “ular” (nipa). Jika sebutan purba Flores adalah “Nusa Nipa” dan Solor disebut sebagai “Tana Laga Doni Nusa Nipa”, tidak lain membuktikan dahsyatnya peran ular di zaman itu untuk menjatuhkan manusia ke dalam dosa asal, membuat manusia pertama penghuni Taman Firdaus, Taman Taman Eden terusir dan mengenyah meninggalkan taman yang damai membahagiakan itu, yang terbilang dalam adanya bencana air bah terbesar di zaman Nabi Nuh dan zaman es, juga bencana lokal “belèbo lèbo berèrang rèrang” (air bah) di Keroko Pukeng Lepang Batang.

Nama Adonara, merupakan hasil evolusi pengujaran dari nama manusia pertama “adam” (adon, ad, at, aton, atl, atlantis) bermakna hakiki “Putra Dewa Putra Matahari” (bdk: suku kata akhir “ra”, bermakna dewa matahari orang Mesir). Tatanan nama Adonara dimaknai juga dalam “adonai” – “elohim” – “yehovah” yang merupakan sebutan tiga gelar Allah.
Sedangkan Solor dimaknai sebagai “solar” – “polar” yang berarti matahari dan bulan (rera-wulan).

Adonara, Nuha Serbite

Serbite, demikianlah sebutan bagi Adonara menurut penamaan Paderi Portulano van Fransisco Rodriques, OP, adalah Adonara yang menjadi pijakan para leluhur pendahulu, sekaligus menjadi tempat tumpuan hidup dan tempat merajut kehidupan sekarang ini. Adonara adalah Tanah Tadon, Tanah Nara Nuha Nebon, yang menjadi tempat tumpah darah kita semua, anak cucunya.

Pulau kecil, The Dreamy Island of Adonara (sebutan menurut penilaian Penelope Graham), semulanya diberi nama Serbite oleh Paderi Portulano van Fransisco Rodriques, OP. Tidak jelas sebab musebab apa yang mendasari penamaan “Serbite” atas Adonara. Ternyata setelah diusut diketahui bahwa penamaan itu berdasarkan kebiasaan orang Portugis, yaitu bahwa dalam setiap pelayaran menuju sebuah tempat baru, orang Portugis masa itu cendrung menamai sebuah tempat berdasarkan kata atau seruan apa yang pertama-tama mereka dengar ketika tiba di tempat baru tersebut.

Selanjutnya Sebastian de Elcano dan Pigafetta dalam pelayarannya dengan kapal Magelhaens ke bagian timur Indonesia dan menyinggahi kepulauan Solor, mencatat: “Di Nusa Serbite-Adonara, Nusa Solor, dan Nusa Kewela- Lomblen, penduduknya terbagi dalam dua etnis yang selalu bermusuhan, yaitu “suku Pajinaran dan suku Demonaran”. Elcano dan Pigafetta menyebutkan Adonara dalam paparannya, dan entah bermula dari pendirian siapa dan kesepakatan mana, maka nama “Serbite” luruh dan kemudian diunggulkan sebutan Adonara sebagai nama pulau kecil ini.

Secara geografis Adonara dilingkupi Laut Flores di sebelah utara, Selat Solor (=Selat Lamakera) di selatan, Selat Boleng di sebelah timur, dan dibatasi Selat Sempit Larantuka di sebelah barat. Luas wilayahnya kurang lebih 530 km persegi. Di atas bumi Adonara yang mungil ini tersebar kurang lebih 225 desa dan kampung yang dihuni oleh penduduk dari beragam agama dan berbagai etnik kesukuan.

Topografi Adonara meliputi 70% kawasan bebukitan dan gunung. Tidak heran jika pola perkampungan dan desa kebanyakan terdapat di lereng-lereng gunung dan bukit, terlepas dari desa-desa yang berada di kawasan dataranm lembah, dan pesisir pantai. Strategisnya perintisan sebuah desa ditetapkan berdasarkan pertimbangan keamanan dan pengamanan diri dari serangan musuh serta kemudahan membalas serangan musuh. Yang menjadi alas an lain adalah kenyamanan untuk bertempat tinggal, serta kemudahan daya dukung untuk bercocok-tanam.

Nuha Serbite adalah nama klasik Adonara, yang disebut pula dalam tatanan “knalan” (nama sanjungan): “Tadon Adonara Lewo Liang Labaenga, Nara Nuha Nebon Tana Wadan Somi Ama”. Ada sekelompok orang malah menyebutnya Tadon Tana Geto, Nara Holot Bage.
Adonara adalah sebuah pulau unik. Karena di dalam pulau Adonara itu sendiri terdapat desa Adonara, desa yang dijuluki “Lewotanah Kelibene Bel’eng Kelek’eng Belah’ang”. Kelibene Bel’eng sehingga mampu “bote hada hong helek na’aro goleka” (menggendong memangku, dan membopong). Kelek’eng Belah’ang sehingga “ba’ang dongot hada gawak na’aro gawaka” (memanggul di bahu, merangkul). Ungkapan ini bermakna bahwa pulau Adonara, teristimewa desa Adonara merupakan pulau serta desa yang menjelma menjadi ibu pertiwi, tanah persada yang setia mengayomi segenap anak keturunannya serta siapa saja tanpa perbedaan.

Tentang nama Adonara didapati beberapa pendapat:

Adonara, terdiri dari dua suku kata yakni ado dan nara. Ado diambil dari nama Ado Pehang, leluhur Adonara, sedangkan nara diterjemahkan sebagai anak keturunan dari Ado Pehang. Yakni (1) Laba Ipe Jarang, yang kemudian menetap di Boleng, (2) Mado Paling Tale, yang kemudian tinggal di Dokeng, (3) Beda Geri Niha, yang kemudian tinggal di Nihaone, (4) Duli Ledang Labi, yang kemudian tinggal di Lewoduli, (5) Kia Karabau, yang kemudian tinggal di Kiwangona, Wokabelolong, (6) Kia Lali Tokan, yang kemudian menghuni Lewobelek, Lamapaha, (7) Sue Buku Taran, yang belakangan menetap di Ebo Lewojawa, antara Terong dan Lamahala. Sehingga nama Adonara merupakan daerah hunian dari anak keturunan Ado Pehang.

Adonara terdiri dari dua suku kata yakni ado dan nara. Ado diambil dari nama Ado Pehang sang leluhur Adonara, sebagaimana dalam pendapat pertama, sedangkan nara diambil dari nama Ola Lakunara, seorang raja Adonara dari kerajaan Liang Lolong. Sehingga nama Adonara adalah perpaduan dari nama dua orang penatua pulau (nuha), yakni Ado Pehang (Kelake Ado Pehang) dengan Ola Lakunara.

Menurut Ernst Vater, nama Adonara diberikan oleh orang Portugis (1516). Orang Portugis yang melihat bahwa orang yang menghuni tanah nara nuha nebon adalah manusia berwawasan luas, luwes, berbudi baik, memberikan nama bagi nuha kita tercinta dengan sebutan Don Nara. Kata don menurut orang Portugis berarti bangsawan, kaum yang memiliki kepantasan strata, sedangkan nara berarti berpengetahuan, berwawasan luas, dan berbudi baik. Sebutan Don Nara rupanya sulit dalam tata ujar orang-orang tua di masa lalu, maka sebutan Don Nara diplesetkan ujarannya menjadi Adonara.

Paul Arndt, SVD mempublikasikan “Demon und Padzi, Die Feindlichen Bruder des Solor-Archipels” (Anthropos, Band XXXIII, 1938), yang telah di-Indonesiakan oleh Bp. Paulus Sabon Nama, dalam judul “Demon dan Paji, Dua Bersaudara yang Bermusuhan di Kepulauan Solor” (2002), telah menggambarkan pulau Adonara sebagai pulau yang sarat dengan konflik sosial dan perang tanding di mana-mana. Karakter manusia penghuninya digambarkan sebagai sesuatu yang tidak masuk akal menurut pandangan Eropa. Karakter yang selalu mengutamakan perseteruan sebagaimana diwariskan seteru dua bersaudara, Demon (Demonaran) dan Paji (Pajinaran). Seteru antara sesama saudara yang selalu diakhiri dengan peperangan, mengacungkan parang dan tombak. Sehingga Ernst Vatter lalu menyebutkan “Adonara the Murdered Island”, Adonara Pulau Pembunuh.
Dalam kacamata budaya dan antropologi manusia Adonara adalah manusia unik. Ada pertentangan yang mengakar antara orang Demonaran dengan orang Pajinaran, dan persaingan dasar antara orang pante (watang lolong) dengan orang gunung (kiwang, dulhi). Konflik mendasar antara Demon dan Paji merupakan pengguguhan atas pertikaian Kain sebagai petani dengan Abel sebagai peternak dan penggembala.

Raibnya Keaslian di Adonara

ADONARA ADALAH BUMI PERSADA, pulau tumpah darah yang menjadi pulau keutamaan dalam lingkup etnis Lamaholot. Patut dibanggakan bahwa dalam hal membangun diri, Adonara “Tadon Tana Geto, Nara Nuha Nebon” memiliki citra yang luwes, yang secara perlahan tapi pasti menyesuaikan diri dengan derap laju pembangunan dan perputaran waktu sesuai dengan definisi istilah Lamaholot. Tetapi disini, di tanah Tadon Adonara patut disayangkan, raibnya beberapa carik pesona “tempoe doeloe” yang mestinya menjadi kebanggan anak-anaknya di zaman ini. Beberapa pernik budaya masa lampau kini sirna. Mungkin disebabkan oleh kelalaian anak negerinya yang menyepelekan nilai emas masa lampau dalam napas kepurbakalaan. Karena terlanjur hanyut dalam arus modernisasi dan mabuk kepayang dikejar perubahan zaman. Yang mau saya angkat sebagai bagian penyesalan saya meratapi kehilangan ini adalah “Pesona Perkampungan Tradisional”.

Dimanakah “kenere/kenerin” (Tenaran matan = Pintu Gerbang) yang semestinya berdiri anggun menyambut siapapun yang datang bertandang ke desa? Dimanakah “Saboratu” (patung manusia/lelaki) sebagai wujud penjaga gerbang? Padahal dia adalah wujud penjaga yang berperan ganda. Ia (Saboratu) adalah simbol yang bertampang heroik mempertahankan desa tua dari ancaman musuh-musuh yang jahil. Tetapi boleh juga bertampang ramah dan lemah lembut menerima siapa yang datang sebagai tamu, serta santun menghantar pergikan sang tamu yang kembali pulang atau merestui anak desanya yang turun ke medan tempur dan medan kerja. “Nobo Merik”, yang berwujud tancapan batu-batu pilihan sebagai tempat duduk para penatua desa, porak poranda bahkan ada yang ikut terbenam sebagai material perbaikan dan pembangunan jalan raya. Uh, saying! “Namang” (halaman) sebagai tempat digelarkan berbagai atraksi dan aneka ritus, kian sempit bahkan hilang diganti berjejalnya rumah-rumah penduduk yang tidak berpihak pada makna historis-estetis. Pancangan kayu berlapis ijuk yang disebut “menula” sebagai tempat memohonkan bantuan Lera Wulan Tana Ekan untuk menolak bala dan wabah (nuung mayang) kini tiada lagi. Kini berada nun jauh di balik rabun anak-anak bumi di zaman serba baru ini. “Bale” dan “Sebaun” sebagai tempat pertemuan adat berganti rupa dengan dibangunkan Bale Desa megah yang konon semakin menjauhkan warganya dari warna solidaritas (kesetiakawanan) sosial. Yang akhirnya memupus kemurnian nilai “hayu-baya” (perjanjian atau kesepakatan tidak tertulis) yang berarti memudahkan nilai dan hakekat demokrasi, yang menghantar anak dan warganya menjadi insan individualis serta menghapus nilai gotong royong. Kemanakah “ko-ke/kokebale” sebagai tempat para penatua desa dan para kepala suku memohon restu nenek moyang? Kemanakan kekuatan magis “eken” serta “nubanara” yang saat ini masih ada, namun penghayatan terhadap nilai mistisnya kabur, dihadang kilau gemerlap modernisasi? Padahal nubanara adalah “ike-kewaat” dan “kuat-kemuha” (kekuatan) lewotana serta segenap warganya.

Di pinggiran perkampungan tradisional semestinya kita temui “laka” dan “urut wai”. “Laka” adalah pondok serta lingkungannya sebagai tempat berlangsungnya pesta perburuan, yang mana di samping pondok berdirilah eken sebagai tempat digantungkan rahang-rahang hewan hasil buruan. Kini tidak ada lagi. “Urut wai” sebagai tempat berlangsungnya upacara ritual memohon turunnya hujan, kini hilang dari pelataran-pelataran perkampungan tua itu. Ini merupakan kekalahan kita, anak-anak Adonara. Kita dikalahkan oleh arus zaman ini sehingga kita mengupetikan keunikan ini ke liang bumi yang paling dalam. Maka semuanya raib dan punah. Di kemudian hari, angan anak cucu kita akan menganggap bahwa beragam keunik-indahan Adonara adalah milik negeri antah berantah di ujung dunia. Inilah mutiara yang hilang.
Adonara telah kehilangan banyak pernik dan pesona budaya yang asli. Termasuk di dalamnya berbagai legenda, cerita-cerita kesejarahan, dan cerita-cerita heroik di masa kolonial. Karena semua kekayaan itu tidak pernah terhimpun secara tertulis. Semuanya, hanyalah kisah-kisah tutur lisan dari generasi ke generasi. Generasi kedua menceritakannya kepada generasi ketiga dengan sedikit perubahan versi, atau melalaikan sebagian. Maka meranalah generasi keempat dan seterusnya yang menerima dan menceritakan kisah-kisah yang tidak sempurna.

Maka, “biarkanlah sebutir mutiara hilang, dari pada kehilangan seuntai mutiara”. Kehilangan berbagai rona budaya asli, perlahan-lahan membuat kita tidak memiliki apa-apa yang patut dibanggakan.
Satu saja harapan sederhana: Kiranya nama timangan “Tadon Adonara Lewo Liang Labaenga, Nara Nuha Nebon Tana Wadan Somi Ama” dan “Tadon Tana Geto, Nara Nuha Nebon” tetaplah semarak dalam penghayatan anak-anak negerinya. Caranya adalah menggali kembali tradisi-tradisi orisinil yang hilang tenggelam.

(dari berbagai sumber tutur lisan)