Sabtu, 18 Juli 2015

Mahadaya Perempuan Mahadaya Keibuan Ibuku

Mahadaya Perempuan
Mahadaya Keibuan Ibuku

d’Klawes
(David Kopong Lawe)


SECARA neurologis perempuan lebih luwes daripada pria. Pada dasarnya perempuan memiliki perkenan budaya sebagai kaum terhormat. Perempuan terdiri dari kata dasar “empu” yang diberi imbuhan awalan “pe” dan akhiran “an”. Empu artinya golongan terhormat, kaum terpandang yang harus diagung-agungkan dan ditempatkan pada kedudukan terhormat. Pe–an berarti himpunan, kesatuan, atau persekutuan. Jadi perempuan berarti persekutuan kaum feminitas yang berada dalam sebuah lingkup terhormat dan yang patut ditempatkan pada tempat terpandang. Tidak boleh diremehkan atau dilecehkan. Kaum perempuan adalah golongan kaum perkasa yang memiliki ketengangan dan kebijaksanaan. Perempuan adalah kaum lemah tetapi perkasa dalam kelemahlembutannya. Kaum yang lebih menggunakan rasa, sensitif mengandalkan perasaan itu sendiri.

Milliu atau lingkup pergaulan kaum perempuan secara kodrat alami adalah: (a) Perempuan sungguh terbiasa dengan semua kerumitan hidup dalam kehidupan sehari-hari, (b) Perempuan lebih mempunyai daya tanggap terhadap sebuah kondisi atau perubahan-perubahan, (c) Perempuan selalu trampil dalam hal urus-mengurus, merawat, dan menata, (d) Perempuan lebih melibatkan perasaan serta mampu menghormati perasaan itu sendiri, (e) Perempuan senantiasa bersungguh-sungguh mencintai kerapian, kebersihan, dan keteraturan etestika, (f) Perempuan selalu mampu menjaga afiliasi atau hubungan pertalian dan silaturahmi kekerabatan dan kekeluargaan.

Sesungguhnya kodrat emansipasi antara pria dan wanita merupakan bawaan alamiah setiap manusia. Karena di dalam diri setiap manusia, melekatlah daya animus dan anima. Pertama, dalam diri seorang perempuan ada daya naluritif yang disebut animus: unsur-unsur kepriaan, atau bayang-bayang kepriaan serta unsur masculinum yang berada jauh di dasar sanubari seorang perempuan. Hal inilah yang mendorong seorang wanita mengarah kepada kecendrungan seorang pria. Misalnya: rambut tomboy, merokok, bercelana panjang, kejar karier, main bola kaki, dll. Kedua, dalam diri seorang pria melekat daya anima: yakni bawaan kewanita-wanitaan, atau bayang-bayang kewanitaan serta unsur feminitas yang ada di bawah alam sadar seorang laki-laki. Daya anima inilah yang mendorong seorang pria meniru-niru bawaan wanita. Misalnya: pria gondrong, suka pakai bedak, pakai anting, dll.


KENYATAAN menunjukkan bahwa paling sedikit 13,4 % rumah tangga di Indonesia dikepalai oleh perempuan. Ada yang berstatus janda dengan mengurus anak-anak dan rumah tangga, dan ada pula yang berstatus perawan tua di mana mereka berperan mengepalai ibunya yang sudah tua serta adik-adiknya yang belum nikah. Kadangkala masyarakat memandang miring terhadap status janda dan status perawan-perawan tua di kampung-kampung. Tidak demikian dengan di Adonara, Flores Timur, di mana para janda dan para perawan tua yang tergabung dalam barisan PEKKA, Perempuan Kepala Keluarga. Dalam perannya sebagai kepala keluarga, mereka mampu menunjukkan keberadaannya sebagai tulang punggung keluarga yang mampu menghidupi keluarga sekaligus mengelola usaha bersama dalam kelompoknya. Mereka selalu membangun kekompakkan dan kesepahaman dalam menegakkan perannya sebagai perempuan mandiri, di balai PEKKA Kelubagolit yang berlokasi di lokasi antara Redontena dan Hinga. Juga balai PEKKA Ile Boleng yang terletak di desa Bayunta’a. Dalam diri mereka sebagai warga PEKKA, ibu-ibu dan perepuan ini memerankan fungsi animus dan anima sekaligus. Sebagai kepala keluarga (yang semestinya “bapak”), dengan mendarmabaktikan keibuannya secara total dan tulus. Mereka membangun pola kerja yang diliputi semangat saling membantu, saling melengkapi, dan saling mengajari dalam berbagai hal. Mereka adalah perempuan yang bermahadaya “ibu”. Mereka adalah ibu yang bermahadaya “perempuan”.

Jika kita membuka lembaran usang khasanah spiritual Nusantara, kaum wanita disebut dengan per-EMPU-an. Empu selalu digunakan untuk menyebut seseorang yang memiliki kelebihan daya cipta, kelebihan pesona, waskita, berilmu tinggi, dan ahli sastra, serta memiiki kemampuan menciptakan sesuatu yang agug.
Maka sangatlah tepat para leluhur bangsa Nusantara mempernamai wanita dengan “perempuan”. Tidak hanya dilihat dari segi jenis kelamin, tetapi dalam pengertian yang lebih mulia. Pencipta keanggunan rumah tangga manjadi sebuah rumah tangga agung. Pelimpah kasih sayang, bahkan dengan tulus iklas mencurahkan sari kehidupannya bagi anak manusia, melalui air susunya, air susu ibu. Maka saya patut menyerukan berulang-ulang dengan suara lantang: Mereka adalah perempuan yang bermahadaya “ibu”. Mereka adalah ibu yang bermahadaya “perempuan”. Saya yakin Anda dan semua pembaca lainnya sependapat dengan saya, untuk meneriakkannya ke seluruh penjuru jagad raya.

Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir-bibir manusia. Dan “ibuku” merupakan sebutan terindah. Kata yang penuh semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.
Ibu adalah segalanya. Ibu adalah penegas kita  di kala lara, impian kita dalam sengsara, rujukan kita dikala nista.
Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan, dan toleransi. Siapapun yang kehilangan ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci, yang senantiasa merestui dan memberkatinya.
Alam semesta selalu berbincang dalam bahasa ibu. Matahari sebagai ibu bumiyang menyusuinya melalu panasnya. Matahari tak pernah meninggalkan bumi, sampai malam merebahkannya dalam lentera ombak, syahdu tembang beburungan dan sesungaian.
Bumi adalah ibu pohon dan bebungaan.
Bumi menumbuhkan, menjaga dan membesarkannya. Pepohonan dan bebungaan adalah ibu yang tulus, memelihara bebuahan dan bebijian.
Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud.
Penuh cinta dan kedamaian.

Demikianlah Khalil Gibran menempatkan ibu sebagai keutamaan yang paling mulia.
Seorang ibu harus menjadi “IBU”, inti budi yang utama. Menurut Gibran, ibulah yang membawahi semesta peranakan di atas bumi dalam berbagai wujud dan ciri.
Gibran mengingatkan kita untuk senantiasa menjaga kemurnian nilai seorang “ibu” dengan semesta “keibuannya”. Ibu adalah mahadaya semesta yang selalu serasi dalam pengibaratan manapun.

Selanjutnya, Hiro Tugiman, tentang Ibu dalam bukunya yang berjudul “101 Pernik Kehidupan” (1996, 11) menuliskan:

IBU adalah kata penuh harap dalam cinta, hangat serta sayang yang mengalir dari relung-relung hati manusia.
IBU adalah segala-galanya, penghibur di kala duka, harapan di waktu derita, dan sumber kekuatan dalam kelemahan.
Manusia siapa yang tidak berlindung di perutnya.
Dan melihat dunia ini tanpa melali rahimnya?

Paus Yohanes Paulus II, dalam “Mulieris Dignitatem” (Martabat Kaum Wanita), tidak hanya memandang wanita dalam kesetaraannya dengan pria. Lebih dari itu Paus menempatkan wanita pada posisi lebih tinggi dan terhormatdengan menjunjung harkat wanita paling natural dari wanita, yaitu ke”wanita”annya, maka demi rasa hormat kepada perempuan, Paus menuliskan bahwa:

Seorang wanita menampilkan suatu nilai istimewa oleh kenyataan bahwa ia adalah seorang pribadi manusia,
dan sekaligus pribadi yang istimewa oleh kenyataan kewanitaannya. Seluruh keluarga, juga seluruh bangsa berutang budi kepada wanita.

Kalau perempuan sungguh berjasa, sudah seharusnya dunia dan seluruh umat manusia memberikan rasa hormat yang layak dan penghargaan setinggi-tingginya kepada kaum perempuan. Penghormatan dan penghargaan konkrit yng semestinya ditunjukkan adalah membela hak-hak prempuan. Pada dasarnya perempuan memiliki kesetaraan hak dengan pria. Di samping itu jika kita lebih teliti, maka perkembangan dunia dan pertumbuhan umat manusia, bergantung juga pada “kepriaan” kaum perempuan. Bukan hanya karena ada kepriaan kaum pria.

Tanggung jawab perempuan terhadap kehidupan terus mereka jalankan perempuan tanpa mengenal kata berhenti. Perempuan atau lebih tepatnya kaum ibu tahu cara paling tepat dan paling ampuh untuk memeihara kehidupan ini. Mereka tahu cara paling lembut dan sederhan menurut hukum asah, asih, asuh untuk mendidik dan mengasuh anak-anak, bukan menurut cara guru mengajar di depan kelas, melainkan hanya dengan keramahtamahan purna memakaikan pakaian dan kelemahlembutan paling tulus mengikatkan tali sepatu mereka.

Senada dengan Khalil Gibran, Hiro Tugiman dalam 101 pernik Kehidupan, menulis:
Matahari adalah ibu bumi, yang memberikan pelukan hangat dan nyaman. Tak kan meninggalkan semesta alam sebelum menidurkan si bumi pada tiupan air laut dan nyanyian burung menyongsong malam tiba. Bumi pula yang menyusui pepohonan dan bunga-bunga, menampung jejak dan nakalnya air hujan, dan dengan senyum menerima tamparan guntur serta petir.

Lelaki yang menulis dengan kata-kata bernada melankolis, bernada menyanjung ibu dan perempuan pada umumnya. Tetapi lelaki jugalah memegang kendali. Sehingga kaum perempuan masih tetap berada di tempatnya, yaitu di bawah supremasi kaum pria. Kaum perempuan menempati posisi tidak pasti. Mass-media dalam dan luar negeri meneriakkan “berdayakan gender”, tetapi strata perempuan tetap menjadi yang diperdaya tipuan slogan gombal. “Hormati hak-hak perempuan”, tetapi pria tidak sudi memberikan batasan yang jelas: “sampai di mana” dan “sejauh manakah batasan hak-hak perempuan”. “Bangkitlah perempuan, kalian setara pria”, tetapi kesetaraan seperti apakah yang telah dilimpahkan oleh kaum pria? Sehingga perempuan yang merindukan persamaan hak dan persamaan derajat menjadi bingung, di manakah semestinya mereka berada?


PBB telah mendeklarasikan “Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhaap Perempuan”. Indonesia menangkap gema konvensi PPB ini dengan mendeklarasikan “Hentikan Kekerasan Dalam Rumah Tangga”. Penulis-penulis perempuan, seperti: Jane Cary Peck, telah menulis sebuah buku berjudul “Wanita dan Keluarga, Kepenuhan Jati Diri Dalam Perkawinan dan Keluarga”, disusul Ruth Tiffany Barnhouse, yang menulis buku berjudul “Identitas Wanita, Bagaimana Mengenal dan Membentuk Citra Diri”. Sepertinya dasar hukum dan petunjuk-petunjuk telah genap, tetapi perempuan masih ber-statusquo. Pelanggaran hak perempuan oleh kaum pria, ditanggapi kaum pria sendiri sebagai sebuah kewajaran. Pelanggaran hak-hak perempuan tidak hanya menyalahi masalah hukum, politik, budaya, sosial, dan agama. Semata. Melainkan merupakan masalah kemanusiaan. Oleh karena itu nilai kemanusiaan seharusnya mendapat perhatian lebih, daripada segala macam rekayasa politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Memandang kemandekan mengangkat hak dan martabat perempuan serta menggilanya pelanggaran hak-hak perempuan, Cary Peck menegaskan: Dosa kaum wanita saat ini bukan terletak pada rasa harga diri yang merintangi, melainkan pemingkuran diri oleh perempuan sendiri. Wanita terlalu dan selalu minder, tidak mengenal jati dirinya, tidak mengenal potensi, bakat, dan talenta yang dikaruniakan baginya yang semestinya diolah untuk kepentingan bersama. Perempuan begitu mudah dimanipulasi dan diarahkan untuk tujuan-tujuan tertentu, bahkan sampai merugikan dan mengorbankan diri sendiri.

Berbeda dengan apa yang diutarakan Cary Peck, Ruth Tiffany menjelaskan: Fakta kemunduran perempuan lebih banyak disebaban oleh kesalahan kaum pria. Sudah sejak lama kaum pria melindungi (mengurung) kaum perempuan di balik tembok-tembok patriarkat. Hal mana telah menyebabkan perempuan kurang percaya akan kemampuannya. Karena kungkungan budaya patriarkat, perempuan cenderung mengikuti nilai-nilai umum yang berkiblat dan berpusat pada pria. Hal ini menyebabkan perempuan sulit melakukan penilaian terhadap kemampuan, bakat, talenta, dan kekuatannya sendiri. Kesalahan lainnya dalam skala sangat kecil, disebabkan oleh kaum perempuan sendiri. Yaitu bahwa mereka kurang mengenal serta kurang yakin siapakah mereka sebagai perempuan sesungguhnya.

Sudah saatnya, perempuan harus bangkit sebagai “manusia mahadaya”. Ibu-ibu pun harus bangkit sebagai “ibu mahadaya dalam keibuannya”. Kekuatan moral dan spiritual terbesar tidak terletak pada peran domestik perempuan. Melainkan lebih dari itu, kekuatan moralitas dan spiritualitas perempuan terletak pada prinsip natural kewanitaan. Mahadayanya seorang perempuan ialah memerankan prinsip natural kewanitaannya, menjadi penyelenggara kasih sayang, serta menjadi ibu yang membijaki ke”bapak”an kaum pria. Sudah saatnya kewanitaan seorang perempuan harus ditegakkan dalam citra per-EMPU-an sesungguhnya. Maka perempuan tidak boleh diam dan berpangku tangan. Perempuan semesta harus kreatif untuk sepandai-pandainya memerankan daya animus dan anima yang melekat dalam dirinya sejak semula.



hari ibu,
20 desember 2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar