PESONA PERKAMPUNGAN TUA
seuntai mutiara yang hilang
(OPINI )
oleh
david kopong lawe
ADONARA yang sama kita cintai adalah bumi Nusa Tadon, yang senantiasa merdu disapa sanjung dengan nama timangan,
Nusa Tadon Adonara
Tana Nara Nuha Nebon
Nusa Tadon Tana Geto
Lama Nulan Holot Bage...
ADONARA ADALAH BUMI PERSADA, pulau tumpah darah yang berada dalam lingkup etnis Lamaholot. Patut dibanggakan bahwa dalam hal membangun diri, Nusa Tadon Adonara memiliki citra yang luwes, yang secara perlahan tapi pasti menyesuaikan diri dengan derap laju pembangunan dan perputaran waktu sesuai dengan definisi istilah Lamaholot.
Tetapi disini, di tanah Tadon Adonara patut disayangkan, te;ah raib beberapa carik pesona “tempoe doeloe” yang mestinya menjadi kebanggan anak-anaknya di zaman ini. Beberapa pernik budaya masa lampau kini sirna. Mungkin disebabkan oleh kelalaian anak negerinya yang menyepelekan nilai emas masa lampau dalam napas kepurbakalaan. Karena terlanjur hanyut dalam arus modernisasi dan mabuk kepayang dikejar perubahan zaman. Yang mau saya angkat sebagai bagian penyesalan saya meratapi kehilangan ini adalah “Pesona Perkampungan Tradisionil”.
Di manakah “kenere/kenerin” (Tenaran matan = Pintu Gerbang) yang semestinya berdiri anggun menyambut siapapun yang datang bertandang ke desa? Dimanakah “Saboratu” (patung manusia/lelaki) sebagai wujud penjaga gerbang? Padahal dia adalah wujud penjaga yang berperan ganda. Ia (Saboratu) adalah simbol yang bertampang heroik mempertahankan desa tua dari ancaman musuh-musuh yang jahil. Tetapi boleh juga bertampang ramah dan lemah lembut menerima siapa yang datang sebagai tamu, serta santun menghantar pergikan sang tamu yang kembali pulang atau merestui anak desanya yang turun ke medan tempur dan medan kerja.
“Nobo Merik”, yang berwujud tancapan batu-batu pilihan sebagai tempat duduk para penatua desa, porak poranda bahkan ada yang ikut terbenam sebagai material perbaikan dan pembangunan jalan raya. Uh, saying!
“Namang” (halaman) sebagai tempat digelarkan berbagai atraksi dan aneka ritus, kian sempit bahkan hilang diganti berjejalnya rumah-rumah penduduk yang tidak berpihak pada makna historis-estetis. Pancangan kayu berlapis ijuk yang disebut “menula” sebagai tempat memohonkan bantuan Lera Wulan Tana Ekan untuk menolak bala dan wabah (nuung mayang) kini tiada lagi. Kini berada nun jauh di balik rabun anak-anak bumi di zaman serba baru ini.
“Bale” dan “Sebaun” sebagai tempat pertemuan adat berganti rupa dengan dibangunkan Bale Desa megah yang konon semakin menjauhkan warganya dari warna solidaritas (kesetiakawanan) sosial. Yang akhirnya memupus pergikan kemurnian nilai “hayu-baya” (perjanjian = kesepakatan) yang berarti memudahkan nilai dan hakekat demokrasi, yang menghantar anak dan warganya menjadi insan individualis serta menghapus nilai gotong royong.
Kemanakah “ko-ke/koke-bale” sebagai tempat para penatua desa dan para kepala suku memohon restu nenek moyang? Kemanakan kekuatan magis “eken” serta “Nubanara” ? Oh ya, yang satu ini memang masih ada dan terjaga, namun penghayatan akan nilai mistisnya semakin kabur, dihadang kilau gemerlap modernisasi. Padahal merupakan “ike-kewaat” dan “kuat-kemuha” (kekuatan) lewotana serta segenap warganya.
Di pinggiran perkampungan tradisional semestinya kita temui “laka” dan “urut wai”. “Laka” adalah pondok serta lingkungannya sebagai tempat berlangsungnya pesta perburuan, yang mana di samping pondok berdirilah eken sebagai tempat digantungkan rahang-rahang hewan hasil buruan. Kini tidak ada lagi. “Urut wai” sebagai tempat berlangsungnya upacara ritual memohon turunnya hujan, kini hilang dari pelataran-pelataran perkampungan tua itu.
Ini merupakan kekalahan kita, anak-anak Adonara. Kita dikalahkan oleh arus zaman ini sehingga kita mengupetikan keunikan ini ke liang bumi yang paling dalam. Maka semuanya raib dan punah. Di kemudian hari, bahkan sejak sekarang ini, kita serta anak cucu kita menjadi rabun mata dan rabun ingatan untuk mengenang, mengenal dan menghargai hal-hal ini. Dalam angan anak cucu kita terbayang seolah perihal unik indah ini adalah milik negeri antah berantah nun jauh di ujung dunia.
Inilah mutiara yang hilang.
Dan tidak hanya itu. Adonara akan kehilangan banyak pernik dan pesona budaya lainnya. Termasuk di dalamnya berbagai legenda, cerita-cerita kesejarahan, dan cerita-cerita heroik di masa kolonial. Karena semua kekayaan itu tidak pernah terhimpun secara tertulis. Semuanya, hanyalah kisah-kisah tutur lisan dari generasi ke generasi. Generasi kedua menceritakannya kepada generasi ketiga dengan sedikit perubahan versi, atau melalaikan sebagian. Maka meranalah generasi keempat dan seterusnya yang menerima dan menceritakan kisah-kisah yang tidak sempurna. Maka, ”biarkan sebutir mutiara hilang, dari pada menghilangnya seuntai mutiara”. Karena akibatnya adalah kita tidak pernah lagi memiliki apa-apa yang boleh kita banggakan.
Horinara medio juli 07
Tidak ada komentar:
Posting Komentar