Sabtu, 18 Juli 2015

TEGAR (CERPEN)



T E G A R

(david kopong lawe)





Doni menggaruk-garuk dagunya yang tidak gatal. Dagu yang alpa dicukuri pada hari ketiga, yang dimahkotai uban sebagaimana bulu-bulu cambang serta rambut di kepalanya. Sebagai seorang guru tua yang telah banyak makan garam belajar mengajar, batin bapak Guru Doni berkesimpulan, “Guru itu identik dengan listrik. Ketika lampu listrik aman menyala semua orang senang, tanpa berpikir dan berniat mempersembahkan kata terima kasih bagi teknisi yang sedang tugas. Namun ketika lampu listrik di rumah-rumah padam semua pengguna listrik menggerutu, mengumpat, bahkan memaki-maki petugas yang belum tentu menjadi biang salah. Padahal padamnya  tersebut diakibatkan oleh penolakan warga untuk memangkas dahan pohon yang menghalangi jaringan lstrik ke kampungnya.” Doni meneguk kopi pahitnya dengan  nikmat, mengisi hari bertangga merah, untuk sejenak beristirahat, kemudian batinnya kembali berujar tak terdengar, “Listrik di mana-mana sama dengan guru. Ketika anak didik dapat nilai bagus dengan rata-rata melampaui kriteria ketuntasan minimum, tidak adak ada seorangtuapun yang mmemuji kinerja guru minimal dengan mengucapkan terima kasih. Namun ketika anak murid mendapat nilai jelek dan berprestasi buruk, guru diumpat bodoh, tidak tahu mengajar.”
Doni tersenyum kecut merasa lucu dengan permenungannya di teras rumanya sendiri. Masyarakat merasa terharu dan berempati kepada guru apabila anak murid menyanyikan Hymne Guru, yang diakhiri dengan lantunan larik terakhir, “engkau patriot pahlawan bangsa… tanpa tanda ja…sa.” Sebuah keharuan dan empati semu, karena mereka merasa janggal ketika pada suatu kesempatan anak-anak murid menyanyikan Hymne Guru dengan lantunan lirik pada larik terakhir, “engkau patriot pahlawan bangsa… pembangun insan cendekia.” Batin mereka sepertinya menolak bahkan membantah pergantian lirik pada larik terakhir…. Lagu berakhir tanpa tepukantangan, dan Guru Doni semakin kecut tersenyum.
Bapak Guru Doni kembali teringat sebuah peristiwa sensatif ketika anak-anak Guru Doni menggelar sebuah malam hiburan. Kala itu Guru Doni duduk bersisian dengan seorangtua murid, yang taklain adalah pejabat pendidikan yanki Kepala Unit Pelaksana eknis Dinas Pendidkan di kecamatannya. Di panggung digelar seduah tarian lokal yang dimodifikasi, sebuah tarian yang memukau. Si orangtua murid menyikut Guru Doni dan berbisik, “Lihat anak yang paling tengah itu, guru. Dia menari gemulai seperti ibunya di masa muda. Dia anak saya.” Acara pagelaran terus berlangsung. Tibalah acara berikut, sebuah sajian fragmen tari. Seiring bacaan narasi dipadu dentang gong-gendang yang ditingkahi efek-efek suara melengking dan mendesis, para pembawa fragmen tari bergerak gemulai. Klimaks fragmen tari ditutup dengan tabuhan perkusi yang mendentum, dan seorang penari merentang tangan sebagai sayap semu meloncat gemulai kemudian menjerembabkan tubuhnya dengan gemulai mempesona. Si orangtua murid kembali menyikut saya, sambil berkata, “Kenapa anak debil goblok itu disuruh menari juga?” Guru Doni merasa jengah, orang tua murid yang aneh.
Terhadap anak yang sama telah dikenakan pujian dan kritikan sekaligus oleh pengampuh pendidikan. Fatalnya si anak murid adalah anak kandung si pejabat pendidikan. Untuk mengakhiri pagelaran Guru Doni naik ke panggung dan berdiri di hadapan mokrofon. Setelah mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan apresiasi segenap orangtua murid, Guru Doni berkata, “Di sekolah ini tidak anak debil yang goblok. Ini bukan sekolah luar biasa, ini sekolah dasar biasa. Semua acara dalam pagelaran ini sudah disaring pada saat gladi resik. Tidak ada acara yang salah. Para pembawa acara adalah anak-anak Anda, segenap orangtua murid yang hadir. Tidak ada seorangpun anak debil dan goblok yang ikut menari. Fragmen tari yang Anda saksikan ditutup dengan jatuh menghempasnya si Garudea, rajawali raksasa sebagai bukti dan bakti kesetiaannya merangkul bumi Nusantara, setelah berhasil membebaskan ibunya dari cengkraman penjajahan. Nah, yang debil goblok itu si penari atau salah seorang dari kalangan penonton? Di sekolah dasar ini kami pantang memvonis anak-anak dengan sebutan bodoh, debil, ataupun goblok. Di sini adalah lembaga di mna kami mendidik, mengajar, membimbing anak-anak didik kami dengan semangat asah, asih, dan asuh. Bukankah pendidikan memerlukan kecermatan dalam menilai sikap, pengetahuan, dan ketrampilan anak-anak didik?” Guru Doni turun dari panggung, penonton bubar setelah menyalami Guru Doni. Si pejabat yang adalah pejabat pendidikan entah sudah berada di mana. Inilah pahit manisnya nasib para pelaksana pendidikan di ujung lini yang menghuni dan berkiprah di pelosok Nusantara.
Dengan langkah enggan Guru Doni masuk ke kamar. Seberapa lama kemudian Guru Doni pun kembali ke tempat duduknya semula. Dikepitnya sebuah dokumen-keeper cukup tebal. Dokumen-keeper tersebut diletakkan di atas meja, lalu jarinya membuka halaman demi halaman dokumen-keeper yang terkesan kumal. Ia menemukan selembar piagam ekslusif berlogokan Garuda Pancasila dengan cetakan tinta emas di pojok kanan atas lembaran piagam, serta logo Tut Wuri Handayani yang tercetak dari tinta emas pula di pojok kiri atas lembaran piagam tersebut. Di pojok kiri bawah dari lembaran piagam tertera nama dan tandatangan megah Yang Maha Agung Mentri Pendidikan Nasional. Selembar piagam berskala nasional kebanggannya sebagai guru sekolah dasar di desa. Piagam Nasional dengan penyertaan nominal lima juta rupiah. Piagam Nasional yang diterimanya ketika diundang ke Jakarta untuk turut serta dalam Perayaan Hari Pendidikan Nasional di Senayan beberapa tahun silam. Piagam tersebut diperoleh Guru Doni karena dinilai sebagai guru ideal, guru kreatif, dan guru inspiratif, dalam pengujian prestasi berskala nasional oleh LIPI, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia bersama Dirjen Dikdasmen Mendiknas RI. Guru yang mampu menghasilkan temuan baru dalam pola pembelajaran yang jauh lebih efektif dari pembelajaran kontekstual, pembelajaran berbasis masalah, dan pembelajaran dengan pendekatan scientifik. Pada hari ini, ketika ia menimang piagam ekslusif kesayangannya, nomina penghargaan yang lima juta rupiah sudah ludes tanpa sisa sepeserpun.
Guru Doni semakin kecut menebar senyum. Piagam ekslusifnya telah membuahkan cemburu dan iri hati pejabat pendidikan, yang sekarang dikenal dengan sebutan keren Kepala UPT Dinas PPO Kecamatan. Sang Kepala UPTD merasa iri dan dendam, karena pernah dilecehkan Guru Doni saat pagelaran seni budaya sekolah. Nama Guru Doni yang tercantum dalam nominasi peserta PLPG dicoret. Maka jadilah, Guru ideal, gugu kreatif, dan guru inspiratif Doni tidak berpeluang untuk disertifikasi. Ketika kolega gurunya dipanggil untuk mencairkan dana sertifikasi guru, Guru Doni senantiasa iklas menyaksikan penandatanganan Keterangan Aktif Mengajar dan Keputusan Pembagian Tugas Mengajar oleh Kepala Sekolah. Guru Doni tulus menyaksikan Kepala Sekolahnya dengan tersenyum, menyertakan pesan bagi mereka, “Manfaatkan dana sertifikasimu, untuk mengembangkan kompetensi dan kinerjamu. Jadilah guru yang terbaik dalam wilayah gugus sekolah kita.”
Guru Doni membatinkan doa bagi mereka. Dirinya tidak berani berangan untuk mendapatkan kesempatan ikut PLPG yang membuahkan dana sertifikasi bagi diri dan keluarganya. Dalam hati ia selalu membanggakan piagam perolehannya, yang ia hargai jauh melebihi puluhan juta rupiah dana setifikasi.
Somi, istri setianya yang sudah terbiasa mengenyam kepasrahan Guru Doni, tiba-tiba muncul di hadapannya. Ia duduk di samping suaminya, Guru Doni, demikianlah sapaan akrab warga desa tempat ia mengabdi. Sambil tersenyum manis Ina Somi, demikian sapaan akrab masyarakat bagi istri Guru Doni berkata lirih menegarkan hati suaminya, yang sedari dulu tetap tagr dalan jati diri keguruannya, “Anggap saja kita ini warga Jepang di tahun-tahun antara 1945 – 1947. Ama Guru akan dihormati Kaiser Hirohito.” Guru Doni menoleh kepada istrinya dan menebar senyum iklas, “Kita ini orang Indonesia yang ber-Pancasila, ina.”
“Ina tahu, kalau kita ini orang Indonesia. Anggap saja kita ini orang Jepang, ama. Maka ketika desa tempat kita berpijak ini dilebur bom atom, Kaiser Hirohito akan segera menyebar para petugas kepercayaannya untuk mensensus berapa guru yang masih hidup. Ama akan masuk dalam daftar sensus dan terus mengabdi sebagai guru serta mendapat perhatian ekstra dari pemerintah, ama,” kata Ina Somi menerangkan.
“Sekedar menganggap dan berangan-angan, itu sah-sah saja, ina. Tetapi saya tidak mau jadi guru utopis dengan impian kosong. Saya mau jadi seperti Guru Oemar Bakri, pegawai negeri yang tegar menyandang tas hitam dari kulit buaya, dan berkendaraan sepeda kumbang.”
Ina Somi tersenyum. Ada kelegaan yang terpancar dari senyum Ina Somi, selaras dengan senyum lega Guru Doni setelah mengidentifiksi dirinya sebagai Guru Oemar Bakri. Guru yang mengabdi empat puluh tahun lebih, tapi tidak pernah makan hati. Maka Ina Somi berdiri dan mengajak Guru Doni suaminya masuk rumah untuk makan malam.
Hari-hari terus berlalu, Guru Doni tetap setia pada rutinitas kerjanya. Sepeda motor butut hasil kreditan belasan tahun silam selalu setia menemaninya. Sepeda motor butut yang menjadi sepeda kumbang kebanggaan dalam penghayatan Guru Doni. Setiba di kelas idolanya, Guru Doni memajang peta Indonesia yang digambarinya dengan spidol permanent warna hitam pada sehelai kertas manila putih. Anak-anak kelas lima yang dibimbingnya berbaris masuk kelas. Mereka menyalami guru kecintaan mereka, Guru Doni membalasnya dan mempersilakan mereka duduk. “Anak-anak, kita mulai pelajaran kita.” Anak-anak muridnya selalu dengan antusias mengiyakan sapaannya. “Kita akan mempelajari peta yang ada di papan tulis ini. Kalian tahu peta apa ini?” “Peta Indonesia, Pak,” jawab salah seorang anak muridnya. “Peta Negara Kesatuan Republik Indonesia,” koor suara murid-murid lainnya menggema. Sambil menempelkan sehelai kertas transparan pada permukaan peta, ia berkata, “Hari ini kita pelajari letak Indonesia. Perhatikan kertas transparan yang bapak tempelkan lalu deskripsikan letak Indonesia.” Anak-anak muridnya mencermati peta yang dibalut leh transparan. “Ayo, dicermati. Siapa yang sudah dapat jawabannya?” Guru Doni memacu anak-anak muridnya memberikan jawabannya.
Pada lembaran transparan ada garis horison yang mendatari peta dengan angka 00 dan kata katulistiwa dibatasi garis miring dan kata equator di ujung kanan. Ada tulisan Sabang di ujung atas Sumatera, dan Merauke di pojok bawah Irian Barat. Ada tulisan Samudera Teduh di pojok kiri agak mendekati sudut peta bagian atas, dan tulisan Benua Asia di atas gambar pulau Kalimantan. Ada tulisan Samudera Indonesia di pojok kanan bawah, dan tulisan Benua Australia di bawah Pulau Timor. Di sudut kiri atas tertulis angka 1410BT, angka 60 LU serta 110 LS di sudut kiri bawah, dan tulisan 950BT pada sudut kanan atas. Ada tulisan Kep. Sangihe Talaud jauh di atas Sulawesi dan P. Rote di bawah Timor.
“Susah, pak. Bapak ajari dahulu sebelum bertanya,” sela seorang muridnya. “Bapak sudah mengajari banyak dengan menempelkan lembaran transparan ini,” jawab Guru Doni. Anak-anak muridnya kembali menekuni pajangan peta dan lembaran transparan. Beda, muridnya mengacungkan tangan. Guru Doni mempersilakannya, maka Beda mengajukan jawabannya, “Indonesia terletak pada garis katulistiwa atau equator, pada garis 00, pak.” Guru Doni mengacungkan jempol kepada Beda. Usai Beda mengajukan jawabannya, ada banyak tangan-tangan mungil teracung meminta diberi kesempatan menjawab. Guru Doni mempersilakan mereka satu persatu dengan tenang tanpa banyak bicara.
“Indonesia terletak antara 95 derajat Bujur Timur sampai 141 derajat Bujur Timur.”
“Indonesia terletak antara 6 derajat Lintang Utara sampai 11 derajat Lintang Selatan.”
“Indonesia diapit dua benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia.”
“Indonesia meliputi Sabang sampai ke Merauke.”
“Indonesia membentang dari Kepulauan Sangihe Talaud hingga ke Pulau Rote.”
Setiap jawaban anak-anak muridnya diberikan senyum dan acungan jempol Guru Doni.
“Nah, ingat-ingatlah jawaban teman-temanmu. Lalu catatkan letak Indonesia dalam buku tulismu” Anak-anak muridnya tekun mengingat-ingat jawaban teman-teman dan mencatatnya dengan segera. Selesai anak-anak muridnya mencatat, Guru Doni mengajukan tanya jawab lalu menutup pelajaran dengan menyanyikan bersama, lagu Dari Sabang Sampai Merauke.

Itulah Guru Doni, sang guru ideal, kreatif, dan inspiratif. Guru tegar. Guru yang diberi harga selembar piagam nasional. Piagam yang dipayungi Garuda Pancasila dan Logo Tut Wuri Handayani. Hingga hari ini, Guru Doni terus setia di depan kelas, mendarmabaktikan kompetensinya bagi pertumbuhan intelektual dan ketrampilan anak-anak muridnya.
Guru Doni terkenang, ketika dilaksanakan Upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional, sekelompok anak didik menyanyikan Terima Kasih Guruku. Masih segar dalam ingatannya, usai lagu itu berkumandang ia bertepuk tangan, tersenyum dengan mata berkaca-kaca….
Di dalam doamu kau sebut namaku
di dalam harapmu kau sebut namaku
di dalam segala hal,
namaku di hatimu
Tak dapat kubalas cintamu guruku
takkan kulupakan nasehatmu guru
hormat bapa ibu guru,
agar lanjut umurmu di bumi
Trimakasih bapa ibu guru
kasih sayangmu padaku
pengorbananmu
meneteskan peluh tuk kebahagiaanku
Tuhan lindung bapa bu guru
dalam doa ku berseru
tetes air matamu
yang kau tabur dituai bahagia

Ia terus mengabdi dengan semangat sempurna. Menganut jati dirinya dengan terus menerapkan gaya mengajar prima yang ia miliki. Ia yakin, ketika nanti ajalnya tiba, anak laki-lakinya yang jadi dokter di Bandung nun jauh pasti membelikan sebuah pigura indah untuk memajangkan paiagam kebanggaannya di ruang tengah. Ia sungguh yakin, kalau anak perempuannya yang jadi dosen Bahasa Perancis di Airlangga, Surabaya akan menterjemahkan syair Terima Kasih Guruku dalam bahasa Perancis dan memajangkannya bersama foto dirinya.
Ternyata……, seorang guru ideal yang sangat diidolakan anak-anak murid, guru kreatif, guru inspiratif dan inovatif sulit mendapat tempat yang layak dalam bilangan profeisonalitas keguruan. Karena pemerintah dan segenap jajaran pengampuh pendidikan lebih mementingkan kurikulum. Lebih menomorsatukan guru yang tidak pernah alpa menyusun dan menulis rencana pembelajaran dengan rapi. Para pejabat dan pengapuh pendidikan di tingkat unit pelaksana teknis menuntut kelengkapan butir-butir rencana pembelajaran dan serbaneka rinciannya, terutama uraian tertulis tentang kegiatan eksplorasi pembelajaran, kegiatan elaborasi, dan konfirmasi anak didik mempertanggungjawabkan hasil pembelajaran. Tuntutan instan yang menutup kemungkinan guru-guru mengembangkan sayap kompetensinya, dan membunuh peluang mengembangkan kreativitas dan isnpirasi brilian guru-guru.

d-Klawes
guru tenu’en
horinara, 25nop2014




(bacaan pengganti sambutan
di hadapan teman-teman saat terima sk-pensiun)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar